Travel

Wisata Sejarah dan Kuliner Kampung Tugu

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Sebuah kata yang dikumandangkan oleh bung karno untuk mengenang sejarah pahlawan. Ungkapan ini memberikan sebuah pelajaran betapa berharganya sejarah bagi suatu bangsa. Hal ini juga menyulut keinginan saya untuk mempelajari sejarah sembari touring bersama dengan Jakarta Food Adventure. loh emang apa hubungannya antara food and history (sejarah)?? . Yaps tema yang diusung adalah pada acara touring 8 Mei 2016 adalah “Explore portuguesee Village Kampung Tugu”. Jadi semua elemen yang ada di Kampung Tugu menjadi media bagi kami untuk mempelajari sejarah.
Di antara hingar bingar kota Jakarta sebagai kota metropolitan dan urat nadi perekonomian Indonesia. Ternyata masih ada individu dan daerah bersejarah di Jakarta yang mempertahankan kultur budaya yang bisa kita ekplorasi. Kampung Tugu di bilangan Jakarta utara adalah daerah yang menyimpan cerita sejarah yang tidak bisa dilepaskan dengan perkembangan budaya Jakarta. Kampung Tugu berasal dari nama prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegera yang dibuat di abad ke 5 masehi. Tahun 1661 ditempatkan 23 orang Portugis beragama katolik yang bermukim di malaka, Malaysia. Belanda yang saat itu terus meluaskan wilayah jajahannya di dunia. Membuat Portugis di Malaysia juga turut terkena imbasnya. Orang-orang Portugis di Malaysia akhirnya ditawan dan dipindahkan ke Kampung Tugu kecamatan Koja Jakarta Utara. Belanda meminta para tawanan untuk menjadi kristen protestan dan memerdekakan mereka menjadi kaum mardijker. Oleh sebab itu sampai sekarang beberapa masyarakat yang bermukim di kampung sejarah Tugu merupakan keturunan Portugis dengan agama kristen protestan.
Bangsa Portugis yang tinggal di Kampung Tugu sampai saat ini masih meninggalkan beberapa jejak sejarah. Beberapa peninggalan berupa benda, bangunan, bahkan keturunan masih tersisa sebagai nilai sejarah bangsa. Pada acara touring saya diajak untuk mengelilingi kampung kristen tepat di depan gereja Tugu. Saya masih melihat wajah-wajah bangsa Portugis layaknya muka C. Ronaldo ala Indonesia di perkampungan kristen itu. Mereka setiap hari menjalankan ibadahnya di gereja Tugu yang sudah berdiri sejak tahun 1735. Bangunan gereja ini sempat dibakar oleh orang Tionghoa yang memberontak pada tahun 1740. Gereja baru akhirnya dibangun dimasa pemerintahan VOC atas biaya salah satu pejabatnya bernama Justinus Vinck.
Gereja Tugu
Diantara perkampungan kristen dan gereja ada sebuah sungai penghubung. Orang setempat menyebut sungai itu dengan nama kali Cakung. Namun setelah mendapat keterangan dari salah satu ahli sejarah masyarakat setempat bahwa kali cakung yang sudah lama menjadi sebutan akrab masyarakat itu bernama sungai Candradimuka Gomate. Konon dulu sungai ini dibangun oleh 1000 orang pendeta. Pada tahun 1735. Sungai ini sebagai sumber irigasi sawah di perkampungan Tugu kala itu. Airnya pun jernih biasa dipakai mandi dan mencuci masyarakat setempat. Kedalaman mencapai 3 meter dan lebar sampai dengan 15 meter. Untuk mencapai gereja Tugu masyarakat harus menggunakan perahu untuk menyebrang. Ironis sekali sekarang sungai itu menjadi hitam pekat dengan aroma yang kurang sedap. Lebarnya berubah hanya sekitar 5 meter. Dasar sungai pun sudah terlihat dengan mata. Inilah ulah tangan-tangan kita yang membuat semuanya jadi tercemar.
Sungai candradimuka gomate yang kini tercemar
Usai melihat perkampungan kristen saya berjalan sekitar 1 Km ke sebuah sanggar kesenian dan keroncong folk dance Tugu. Akulturasi budaya antara Portugis dan betawi membentuk suatu musik keroncong khas masyarakat Tugu yang sangat unik. Grup musik Crafinho menjadi grup musik yang sangat fenomenal dan eksis sampai saat ini. Dulunya grup ini bernama Moreko Tugu. Setiap tahun mereka diundang ke Malaysia untuk pentas dan memperlihatkan musik berbahasa Portugis kreol itu. Khusus hari itu 8 Mei 2016 bersama dengan Jakarta Food Adventure kita memperagakan folk dance yang sebelumnya sudah jarang lagi dimainkan. Para peserta touring juga tidak ketinggalan geyal-geyol dengan iringan musik yang serempak. Perpaduan antara biola, gitar, bass,banyo, ukulele dan tamborin sangat serasi dengan goyangan dancer. Di sela-sela alunan musik kita juga mencicipi kudapan atau hidangan ala masyarakat Portugis dulu. Antara lain adalah kue pisang udang (semacam nagasari dengan udang didalamnya dan dibungkus dengan daun pisang). Apem Kinca (kue apem yang dimakan dengan gula merah cair). Ternyata acara touring juga diikuti oleh peserta bule asal Portugal. Dia sangat tertarik dan doyan sekali dengan makanan Tugu. Makanan dan musik yang ada seakan mengingatkan mereka akan kampung halamannya di Portugal. Peserta dari Portugal menyebut apem kinca di Portugal dengan nama Pam. Di Indonesia bernama apem, Yah mungkin saja karena lidah orang Indonesia yang ingin simpel dalam pengucapannya.
Grup Musik Keroncong Crafinho
Ketan Tanti
kue pisang Udang
Apem Kinca
Peserta mengikuti tarian dance keroncong
Terakhir kita mengunjungi satu-satunya rumah adat Portugis yang masih terjaga keasliannya. Beberapa bagian terlihat sudah rapuh dan jika hujan kadang kala bocor. Sepeda, alat musik kuno dan beberapa foto peninggalan sejarah juga rapi terpasang layaknya sebuah museum.  Inilah yang menjadi daya tarik yang menyimpan nilai sejarah tinggi. Tahun 2010 pemerintah DKI Jakarta sempat mencanangkan bahwa rumah ini akan dipugar sebagai sebuah warisan budaya. Dana 2,2 Milyar sudah tersedia untuk pemugaran sekaligus pembangunan gereja. Namun karena ada masalah dan suatu hal pemugaran itu diurungkan.
Rumah adat portugis yang masih terjaga keasliannya
beberapa peninggalan sejarah
foto dan alat musik sejarah












Demo masak juga dilakukan di rumah adat ini. Pindang bandeng serani menjadi kuliner yang diperagakan langsung cara masaknya. Sebuah bandeng yang diolah dengan kaldu kecap namun bumbunya dibakar terlebih dahulu. Cita rasanya gurih bercampur manisnya kecap cocok untuk siang sebagai suguhan peserta Jakarta Food adventure. Seorang mahasiswa juga melakukan demo masak portugeuse egg tart. Sebuah kue khas dari Portugis yang saya bilang seperti kue pie. Namun terlihat agak gosong toppingnya.
Demo Masak portugeuse egg tart
Meskipun sedikit lelah namun hari itu benar-benar bernilai bagi saya. Setelah sekian lama tidak wisata sejarah. Akhirnya saya belajar langsung dari peninggalan dan keturunan bangsa Portugis tentang asal muasal masyarakat Tugu. Ditambah dengan kuliner penggoyang lidah khas Portugis yang tidak akan saya temui dimanapun kecuali di Kampung Tugu.

3 thoughts on “Wisata Sejarah dan Kuliner Kampung Tugu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *