Lifestyle

The Power Of Kepepet Tanggal Tua

Hari ini saya mengikuti sebuah reoni bersama teman satu kost. Awalnya agak enggan rasanya datang ke acara reoni itu. Pekerjaan yang menumpuk dan beberapa kesibukan lain membuat saya kurang antusias untuk ikut serta di acara kumpul bareng teman satu kost sewaktu kuliah dulu. Satu hal yang menjadi daya tarik adalah keempat sahabat saya yaitu mahmud, topik, dan valdi. Meskipun dalam satu kost dulu ada 12 orang. Saya lebih dekat dengan 4 sahabat itu. Tidak karena faktor agama, suku atau marga. Kami lebih dekat lebih karena bisa saling memahami dan peduli satu sama lain. Dengan beberapa pertimbangan itu akhirnya saya memutuskan untuk berangkat sekedar kumpul bareng bersama dengan 12 teman satu kost sewaktu kuliah.   

Reoni Mengingat Masa Tanggal Tua ketika di kost

Mengikuti reoni kecil-kecilan itu. Terasa mengingatkan saya pada kehidupan kost 2 tahun silam. Kebetulan dulu sahabat saya berempat tidur dalam satu kamar. Senasib sepenanggungan itulah prinsip hidup kami. Beruntung bagi saya tergabung dengan teman-teman yang memperoleh beasiswa penuh kuliah di Jakarta.  Kata dosen saya “Dari ujung rambut sampai ujung kaki itu kalian dibayarin semua, jadi tidak ada yang namanya malas-malasan”. Kata-kata itu Membuat beban belajar tersendiri bagi saya untuk terus memperoleh indeks prestasi yang tinggi.
Selain kuliah menimba ilmu saya juga dapat pelajaran untuk hidup mandiri di perantauan. Teman satu kost saya datang dari sabang sampai merauke. Semuanya mendapat bantuan biaya kuliah, biaya hidup buku dan praktik. Khusus bantuan biaya hidup diberikan kepada kami setiap bulan sekali di tanggal satu. Usai mendapat uang biaya hidup dari beasiswa. Kebiasaan buruk yang kami lakukan adalah menghambur-hamburkan uang. Nonton, makan di restoran dan membeli barang yang tidak terlalu penting adalah tabiat jelek yang kami lakukan. Akibatnya uang biaya hidup itu habis sebelum uang biaya hidup bulan berikutnya turun.
Makan di Restoran Mahal Suatu Kebiasaan Buruk Kami Ketika Beasiswa Turun 
Jika kebanyakan orang merasakan tanggal tua di kisaran kalender 29 atau 30. Kami merasakan tanggal tua sejak tanggal 20. Entah meskipun kita sudah menghemat. Rasanya uang kami selalu habis di tanggal 20. Tanggal tua itu kami namakan musim paceklik. Paceklik makanan, uang dan kebutuhan lain. Kami bisa merasakan lebih kuat dibanding dengan superhero sekaliber captain amerika atau iron man ketika tanggal tua itu mulai mendera. Bagaimana tidak?? kami bertahan hidup dengan uang di tanggal tua yang sudah sangat menipis.  Setiap akhir bulan kami harus memikirkan cara untuk menyambung hidup. Beberapa hal kami lakukan untuk bisa survival di musim paceklik tanggal tua. Tapi anehnya selalu ada saja makanan yang kami lahap di akhir bulan itu. Mungkin itu yang namanya The Power Of Kepepet di tanggal tua. Tiga hal yang sering kami lakukan untuk menghadapi tanggal tua :
   1.  Makan Seadanya
Uang sudah tiada, bahan makanan di dapur pun tinggal seadanya. Kalender masih menunjukkan angka 20. Pertanda uang beasiswa turun masih sekitar 10 harian. Terpaksa sajian yang kita makan ya seadanya. Paling akrab di kalangan anak kost adalah mie instan dengan nasi. Dua elemen makanan dengan kandungan karbohidrat tinggi. Kadang kita juga membeli makanan murah lain seperti tahu dan tempe goreng yang harganya Rp 2000 untuk sekali makan. Jauh dari kata empat sehat lima sempurna yang biasa di gaungkan dikalangan anak mama yang tinggal bersama orang tua. Makanan paling mewah dan kami anggap spesial yang bisa disantap ketika tanggal 20 ke atas adalah telur mata sapi campur kecap dan nasi. Sajian ini menjadi sebuah sajian rutin ketika tanggal tua mulai datang.  Kendati demikian kita tetap bersyukur karena saya yakin banyak saudara kita di luar sana yang tidak bisa merasakan makan seperti kami para anak kost.
Mie Instan Plus Nasi Makanan Tanggal Tua
   2.  Hadir Ke Hajatan Tetangga
Mencari hajatan biasa kami lakukan untuk memperoleh makanan gratis di sekitaran komplekrumah tempat kami tinggal. Agak kocak memang kedengarannya. Tetapi ini terpaksa kita lakukan untuk menjaga perut tetap terisi dikala dompet sudah tidak lagi berisi. Hajatan bisa berbagai macam. Mulai dari nikahan, selamatan keluarga sampai aqiqah (tradisi selamatan untuk kelahiran anak orang muslim). Makanan yang kami terima dari hajatan pun tergolong mewah. Ayam, sayur dan buah menjadi sajian wajib yang pasti kita dapatkan. Ketika mengikuti hajatan barulah kita merasakan makanan empat sehat dan lima belum sempurna karenatidak ada susu untuk melengkapi. Masyarakat komplek pun tidak pernah heran jika seklompotan anak satu kost. Hadir di tempat hajatan. Bahkan mereka mempersilahkan dan memberi bekal makanan untuk dibawa pulang. Tak jarang mereka turut membagikan info jika ada jadwal hajatan di komplek tempat kami tinggal. Malu.., tidak lah. Kami tidak pernah malu melakukan ini. Selama itu halal dan tidak merugikan orang lain.  Kami anggap dari pada mencuri atau melakukan hal lain yang sifatnya negatif. Mending hadir ke acara hajatan. Dapat manfaatnya dapat pahalanya, ya nggak..?

Ketika Uang Di dompet Tinggal Rp.10.000

   3.  Minta Kiriman Orang Tua
Ini menjadi opsi terakhir jika dua opsi sebelumnya masih belum mampu mengatasi paceklik di tanggal tua. Pilihan ini kami ambil demi kelangsungan hidup. Kami meletakkan kiriman orang tua di opsi terakhir karena kita menyadari bahwa mahasiswa sudah bukan lagi anak-anak ingusan yang harus minta kiriman orang tua. Mahasiswa adalah fase dimana kita berubah dari anak SMA yang masih mempunyai sifat kemanja-manjaan menjadi lebih dewasa. Tolak ukur dewasa sendiri bisa dilihat jika seorang yang awalnya meminta uang  kepada orang tua berubah menjadi memberi ke orang tua. Selain itu saya merasa sudah cukup untuk merepotkan orang tua dari mulai bayi sampai SMA. Yahh jika dihitung kurang lebih 19 tahun orang tua sudah all out banget membesarkan kita. Opsi ini jarang sekali saya lakukan. Setidaknya selama saya kuliah di Jakarta 4 tahun. Jika diakumulasikan saya baru minta kiriman orang tua sebanyak 3 kali dengan total Rp 600.000.

4 Sahabat Menghadapi Akhir Bulan di Kost : Anjar, Valdi, Mahmud & Topik

Usai berlarut-larut sampai dengan semester 4 kami melakukan 3 hal itu untuk menghadapi tanggal tua. Semakin lama malah tanggal tua ini datang lebih cepat. Bahkan di pertengahan bulan kami sudah mengalami musim paceklik. Sebuah ide dari kami berempat akhirnya muncul. Sebuah ide yang muncul karena kepepet untuk bertahan hidup di tanggal tua. Kami sekarang benar-benar tau apa hikmah the power of kepepet dari pengalaman hidup di tanggal tua. Ide itu bernama “Konsep Irit”
Sengaja atau tidak konsep ini kami klaim menjadi hak paten kita berempat. Berawal dari keprihatinan dan mirisnya hidup di akhir bulan akhirnya konsep ini kami temukan. Tidak dengan penelitian atau analisis yang panjang seperti para ilmuan biasa menemukan sebuah teori dan pemikiran baru. Kami hanya berbekal hikmah dari “The Power Of Kepepet”. Akhirnya konsep ini kami temukan secara tidak sengaja. Kami namakan penemuan ini “Konsep Irit” karena kita bisa lebih menghemat pengeluaran untuk kebutuhan makan. Cara main Konsep irit ini sangat sederhana sekali. Dari 3 orang sahabat saya. Bekerjasama untuk mengumpulkan uang setiap bulannya. Uang biaya hidup yang kami terima sebesar Rp 900.000/bulan. Kami sisihkan Rp 100.000 ke bendahara konsep Irit. Kebetulan pemegang bendaharanya saya sendiri. Dari empat orang kami mengumpulkan uang sebesar Rp 400.000. Rincian pengeluaran konsep irit per bulan adalah :

  • Untuk beli beras 10 Kg =Rp 100.000
  • Untuk beli sayur dan lauk makan selama satu bulan = Rp 250.000
  • Buah atau susu (kami pilih salah satu namun tidak setiap hari) = Rp 50.000
Jika di total uang Rp 400.000 yang sudah terkumpul. Bisauntuk makan selama satu bulan. Untuk pembagian job desk setiap orang berbeda-beda. Misal saya hari ini masak nasi. Mahmud dan valdi masak sayur dan topik membeli sayuran di pasar. Terus dilakukan bergantian penjadwalan setiap anak. Proses konsep ini berjalan dengan kerjasama dan akhirnya pun makan bersama. Sebelum konsep ini ada kami makan sendiri-sendiri. Beli nasi, lauk dan masak pun untuk makan keperluan sendiri. Terkadang karena masak harus dalam porsi banyak. Nasi dan lauk yang sudah matang harus basi karena terlalu lama. Sejak ada konsep irit. Kini hal itu tidak terjadi lagi. Selain sebagai upaya penghematan yang kami lakukan. Dari uang biaya hidup yang Rp 900.000 hanya tereduksi Rp 100.000 untuk makan satu bulan.  Konsep irit juga membuat aura kebersamaan kami semakin kentara.

Makan Bareng Di Kost Ketika Tanggal Tua Datang

Hikmah The power of kepepet tanggal tua selanjutnya adalah kita mulai belajar untuk mendapatkan uang tambahan. Mahmud yang memiliki keahlian desain grafis dan instalasi komputer. Sering mendapat orderan desain banner, pamflet dan instal ulang komputer. Topik yang lulus dari jurusan SMK otomotif lebih memilih untuk kerja part time di sebuah bengkel mobil dekat kost. Valdi memilih berjualan pulsa listrik dan makanan di kampus karena cita-citanya menjadi wirausaha. Saya sendiri karena hobi menulis lebih memilih ngeblog sebagai media untuk menyalurkan hobi yang kadang kala mendatangkan keuntungan materi. Itu hikmah yang kami rasakan dari the power of kepepet di tanggal tua. Memang awalnya agak miris karena setiap tanggal tua selalu kehabisan uang. Kini akibat the power of kepepet itu akhirnya kita jadi lebih mandiri dan bahkan bisa menabung meskipun tanggal tua datang.

Hikmah The Power Kepepet Menjadikan Mahmud Seorang Instalasi Komputer

Hikmah The Power Kepepet Juga Menjadikan Topik Kerja di Bengkel


Tidak terasa malam pun berlalu. Kami bercerita kehidupan kost panjang lebar dengan teman-teman di reoni kecil-kecilan. Tidak kecewa rasanya saya datang ke acara reoni. Acara seharian itu seakan menjadi sebuah perantara bagi kami anak kost untuk napak tilas mengenang kehidupan ketika kuliah. Kini kami sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Namun kehidupan di tanggal tua tidak pernah kami lupakan karena indahnya kebersamaan dan hidup senasib sepenanggungan di perantauan jauh dari orang tua. Akhirnya kami pun berpisah dari reoni itu. Pulang ke rumah masing-masing dan siap untuk berjibaku dengan pekerjaan.

23 thoughts on “The Power Of Kepepet Tanggal Tua

  1. pernah ngerasaiin gimana ngekos meski sebulan stgah. tapi kebersamaan emang dibutuhkan supaya efek tanggal tuanya tak begitu berdampak weheeee
    sukses yaa buat lombanya ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *