Lifestyle

Sustainability Amal Kebaikan

Para founding father kita telah mencontohkan bahwa qoirunnas anfa uhum linnas itu memang terpatri tajam dalam hati mereka. Hidup dalam bingkai perjuangan, menebar kebaikan dan kebermanfaatan untuk orang lain adalah sebuah keniscayaan. “Sebaik-Baik Kamu Adalah Yang Bermanfaat Bagi Orang Lain” tidak hanya dimaknai sekedar jargon dan dalil semata, tetapi terimplementasikan menjadi kewajiban bagi setiap insan manusia.  

Suatu saat KH Ahmad Dahlan di suatu siang terik keluar dari rumah untuk menjual perabot rumahnya. Piring, teko, gelas dan apapun yang ada dalam rumah beliau jual ke orang lain. Hasil penjualannya beliau gunakan untuk membayar gaji para guru dan dokter di lembaga pendidikan dan rumah sakit Muhammadiyah. Akibat perjuangannya itu, sampai saat ini Muhammadiyah tercatat mempunyai 12.000 sekolah, 108 universitas, 107 rumah sakit dan 10 fakultas kedokteran dan melahirkan 700 dokter setiap tahun. Di momen lain KH Hasyim Asyari berjuang begitu gigihnya untuk kebaikan di bumi Nusantara. Buah dari perjuangannya terlihat hingga saat ini. Di Kementerian Agama tercatat 27.000 pondok pesantren NU tersebar di seluruh Indonesia. Kalau saja kita mau berkeliling Pondok pesantren NU setiap hari. Sampai umur 50 tahun pun tak akan habis kita kelilingi pondok pesantren yang telah mencetak para cendekiawan dan ulama itu.

Kita bisa bayangkan, benih kebaikan yang telah dilakukan 2 abad silam oleh 2 tokoh besar bangsa ini. Masih bisa kita nikmati sampai hari ini.  Bahkan saat beliau semua telah tiada di muka bumi.

Tentu banyak sekali tokoh bangsa selain beliau berdua yang telah memberi tauladan kebaikan. Kisah sejarah itu memberi sebuah pelajaran besar, dahsyatnya amalan kebaikan yang kita lakukan akan melampaui usia kita. Inilah yang kemudian saya sebut sebagai sustainibility amal kebaikan. Pahala jariyah yang terus mengalir tanpa putus-putus meskipun kita telah tiada di dunia ini.

sustainable amal kebaikan 2 tokoh bangsa (Design by : www.anjarsetyoko)

Kenapa amal kebaikan kita harus sustainable?

Oke sekarang saya ajak anda berfikir matematis. Kalau dihitung, umur manusia rata-rata hanya sekitar 60-70 tahun. Minimalnya kita tidur 6 jam sehari. Itu artinya 1/4 usia diri ini digunakan untuk tidur. Waktu kita untuk berbuat baik untuk orang lain dalam sehari bisa dihitung dengan jari. Rasa-rasanya kalau hidup semacam itu, kecil kesempatan kita untuk dapat menikmati keindahan hidup setelah kematian. Tidak ada buah ranum nan manis bisa dinikmati setelah kita kembali ke Sang Pencipta.

Terus kumaha atuh? Dengan waktu yang singkat itu kita dapat masuk ke dalam jajaran orang yang paling baik untuk masuk dalam surgaNya. Layaknya dua tokoh besar KH Ahmad dahlan dan Hasyim Asyari beserta para pahlawan lain.  

That’s why kita harus terus menebar kebaikan kepada sesama dan mengusahakan kebaikan itu mengalir terus tanpa putus-putus.

Saya sebagai anak muda milenial kekinian. Tak ingin hikmah sejarah yang ada dari para tokoh bangsa. Hanya sekedar menjadi pajangan apalagi isapan jempol belaka. Saya implementasikan sejarah amal baik itu di setiap perjalanan kehidupan dan derap langkah kaki ini. Yayasan baitul Ar Rahman yang berada di kawasan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat adalah tempat rutin saya bercengkrama dengan anak yatim piatu.

Pagi-pagi sekali saya sudah bangun mempersiapkan diri menuju yayasan baitul Ar rahman. Kopyah hitam sudah saya pakai, baju koko lengkap dengan celana hitam sudah melakat rapi di tubuh kerempeng ini. Tak lupa parfum wangi saya semprotkan ke badan. cus…cuss….cuss. Ok, kita langsung capcus.

Letak Yayasan Baitul Ar Rahman tidak jauh dari kost. Butuh waktu 15 menit berjalan kaki untuk sampai ke Yayasan pembinaan anak Yatim Piatu itu.

Nampaknya ada beberapa anak yang sudah stand by di depan gerbang Yayasan. Terpasang indah raut muka penuh keceriaan karena anak-anak akan main games, belajar ngaji bareng dan tentu akan dapat banyak hadiah dari yayasan. Diantara beberapa anak yang hadir hari minggu itu. Saya kebagian untuk mentoring satu anak berumur 9 tahun bernama topik. Anak ini memeliki keterbatasan mental dan sudah ditinggal ayahnya sejak umur 6 bulan lantaran kecelakaan.

Kendati mempunyai keterbatasan, semangatnya layaknya matahari pukul 12.00, paling tinggi dan paling panas. Dengan terbata-bata Topik belajar mengaji bersama saya. “alkamdulillah irobbil alamin, arrohman tirohim. Makikinjak ummikging” ayat demi ayat keluar dari lisan topik. Makroj yang kurang sempurna saya perbaiki pelan-pelan. Rasanya mata ini berkaca-kaca mendengar huruf demi huruf terucap dari lidah yang masih cadel itu. Lantas berkata dalam hati “Sungguh nikmat tuhan mana lagi yang kita dustakan”.

Anak-anak yatim yang lain pun banyak yang ikut serta dalam setiap santunan yang kami adakan 2 minggu sekali ini. Setidaknya ada sekitar 56 anak asuh yang kami bina. Meskipun tidak banyak yang saya berikan untuk anak-anak. Saya berharap mereka mampu mengimplementasikan apa yang telah saya dan kawan-kawan ajarkan. Baik itu mengaji, berhitung, presentasi dan beberapa ilmu lain.  

Saya yakin masih banyak anak yatim piatu seperti di Yayasan Baitul Ar Rahman membutuhkan perhatian para aktivis organisasi. Data yang saya kutip dari kementerian sosial menunjukkan jumlahnya anak yatim piatu tahun 2016 di Indonesia mencapai 4,5 juta.  Jangan hanya tecengang dengan data ini, tapi mari ambil bagian untuk perubahan negeri. Sebab masa depan bangsa berada di tangan para anak-anak yang masih belia ini. Nggak usah nanya pahala yang kita dapatkan nanti. Cukup satu kalimat “Kalau bukan kita siapa lagi, Kebaikan Berbagi akan kita rasakan sampai mati”

Selain di Yayasan anak yatim saya juga juga aktif di organisasi sosial kampus bertajuk Lembaga Dakwah Kampus.  Kami sering mengadakan kegiatan kunjungan ke beberapa panti asuhan dan kaum dhuafa yang terpinggirkan di bantaran sungai, tepi rel kereta api. Berdialog langsung, face to face dengan masyarakat marginal. Merasakan masalah sosial yang mencakup isu kemiskinan, kesenjangan sosial dan konflik sosial yang sering menyemuti. Satu tempat yang pernah saya kunjungi dan masih terngiang sampai saat ini adalah Sekolah Master.

Ahhh mungkin ini sekolah orang yang memang sudah “master” di bidangnya? Gumam saya dalam hati, saat mendengar kali pertama kata “master” tersemat di nama sekolah itu. Ternyata gumaman saya itu salah besar. Sekolah master adalah singkatan dari sekolah masjid terminal. Berada di sekitaran terminal depok Jawa Barat.

Saya mencari-cari dimana nih letak ruang kelasnya. Hanya kontainer yang dicat dengan berbagai warna dan motif yang terlihat di halaman. Mata ini liar memandang jauh suasana sekolah master. Pada bagian tengah lahan sekolah, berdiri mushola mungil dengan tembok pembatas tinggi hanya 1 meter.

”Bim ini ruang kelasnya mana? Tanya saya kepada bima teman yang sudah familiar dengan daerah ini.

“Noh kontainer” jawab bima rekan sejawat saya.

Hari itu kami memberikan beberapa bingkisan dan menyalurkan zakat dari mahasiswa kepada semua anak sekolah master yang hadir. Peserta didik di sekolah master ini merupakan anak-anak jalanan yang putus sekolah, tidak mampu membayar biaya pendidikan ataupun anak jalanan di sekitaran Depok. Mereka tidak mengenakan seragam apalagi sepatu. Yang mereka kenakan hanya segenggam semangat untuk belajar dengan berbagai macam keterbatasan.

“ayok anak-anak kita main di halaman” teriak saya kepada anak-anak yang sudah fokus dengan bingkisan dalam genggaman tangannya. Anak- anak berbaris rapi di halaman yang cukup luas itu. Satu bola pingpong mereka oper bertahap dari satu anak ke anak yang lain secara berurutan. Senyum sumringah langsung terpancar dari setiap wajah peserta didik sekolah master.

Lega rasanya mampu mengembalikan mereka ke arena bermain. Setelah sebelumnya kulit mereka legam terbakar sinar matahari jalanan. 

Dengan semakin banyaknya relawan dan mahasiswa yang mengunjungi sekolah master. Mereka tidak hanya sekedar mendapatkan pelajaran sekolah, media bermain apalagi hanya sekedar setenteng bingkisan. Melainkan mereka juga tersugesti untuk meniru kebaikan berbagi yang telah dilakukan relawan kelak ketika dewasa. Dengan demikian keberlanjutan amal baik dari saya kepada mereka terus mengalir layaknya mata rantai yang terikat satu sama lain. Semakin kuat ,kokoh dan menjuntai panjang mengikat orang lain untuk terus berbuat baik.

Terutama saat wabah corona saat ini, bukan menjadi penghalang untuk berbuat baik. Justru corona menjadi sebuah katalis untuk lebih menguatkan kebaikan kita kepada sesama. Terlebih virus corona tidak hanya sekedar menjadi penyakit pandemi. Melainkan juga penyakit yang meluluhlantakkan seluruh tatanan kehidupan sosial maupun ekonomi.

Berbuat baik saat momen corona bisa dilakukan dengan berbagai macam. Saat pak RT 08 tempat saya tinggal mengadakan gotong royong semprot desinfectan. Saya langsung capsus ambil bagian. Tangki yang telah disiapkan pak RT saya bawa ke komplek di sekitaran rumah. Srot…srottt….srooot nada semprotan saya berbunyi keliling beberapa rumah. Ya memang kecil yang bisa saya lakukan, namun saya yakin gelombang yang besar itu berawal dari desiran ombak kecil yang menjadi satu.  

Jangan sampai tertular, tidak menularkan dan ikut andil dalam program pemerintah mengentaskan COVID 19. Tak perlu berkata siapa yang harus bertanggung jawab, apalagi mengkambing hitamkan kambing yang seharusnya putih. Cukup ambil bagian untuk menyelesaikan ini semua. Memberikan alternatif solusi bagi masyarakat saat ini lebih baik ketimbang mencari delik atas permasalahan yang ada. Sehingga muram durja ibu pertiwi akibat dari Covid 19 cepat teratasi.

Tentu rentetan pengalaman saya ini teramat miskin dan minim. Masih banyak sekali perbuatan baik yang dapat kita lakukan. Sebab sejatinya, perbuatan baik banyak bentuk dan caranya. Kendati demikian apapun bentuk perbuatan baik. Semua akan berangkat dari keyakinan bahwa perbuatan baik itu tidak pernah sia-sia dan akan terus sustainable (berkelanjutan). Baik berkelanjutan dari perspektif pahala, maupun jumlah orang yang tertular untuk berbuat baik karena kebaikan kita. Layaknya sebuah pohon yang bercabang, setiap cabang nya mempunyai ranting dan setiap ranting menumbuhkan buah yang ranum dan dapat dipetik. Terus akan sustainable tanpa mengenal batas waktu dan usia. Meskipun kita masih tertatik-tatih untuk meraihnya, yuk menjadi agen kebaikan di lingkungan sekitar !

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

3 thoughts on “Sustainability Amal Kebaikan

  1. Dua tokoh bangsa yang berperan besar di negeri Pertiwi atas dedikasinya. Jadi teringat sebuah Hadist bahwa salah satu kebaikan 3 perkara yang tak akan putus meski telah tiada adalah amal jariyah
    Hal ini kian meyakinkan bahwa tak perlu ragu atau takut untuk berbagai sebab Allah telah menjanjikan segala kebaikan setelah nya

  2. kagum sama semangat pengajar juga Anjar, jarang loh anak muda mau turun ke jalan seperti kamu dan kawan kawan lainnya itu

    Semoga Allah mudahkan juga niat dan cita cita kalian amiiiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *