FamilyOpini

Stunting dan Dampak Memilukan Yang Harus Kita Cegah!!

Satu hal yang biasa jika di tahun 70-80an pasangan suami istri memiliki banyak buah hati. Tidak hanya kakek saya yang mempunyai satu lusin anak. Ternyata buyut kemudian juga warga desa sekitar rumah juga memiliki minimal 7 orang anak.  Hanya seklebat kata yang sering terngiang di kepala,“ Banyak anak itu banyak rezeki”, begitu kata kakek saya yang saat itu sudah memutih rambutnya.

Banyaknya anak tentu akan membuat repot orang tua, tidak hanya bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan perutnya tetapi juga akan memecah perhatian saat memberi pendidikan ruhaniahnya. Gimana nggak ribet tuh anak satu tim sepak bola dengan berbagai macam karakter dan kenakalannya? Ah entahlah! saya pun tak bisa membayangkan seperti apa keadaan ayah beserta 11 saudaranya waktu itu.

Benar saja, pendidikan bapak beserta dengan 11 paman saya memang tidak begitu diperhatikan. Ya kalo mau sekolah, cari uang sendiri buat biaya. Pun demikian dengan kesehatan, kalau nggak benar-benar parah nggak akan dibawa ke dokter. Untungnya waktu itu jenis penyakit dan virus yang menyerang, jumlahnya tidak seabrek seperti sekarang.  Dulu belum ada yang namanya Virus rubella, kolera, Ebola, virus flu burung dan virus cinta #eh.

Jika sakit sudah sampai pada level parah. Pak mantri hanya ada di ibukota kabupaten yang notabene jaraknya jauh dari tempat tinggal. Jarang sekali ada upaya pencegahan secara preventif seperti imunisasi, edukasi, apalagi pemberian vitamin seminggu sekali. Kalau sakit ya diberi minum air hangat, kalau pengen tinggi ya dipanggul bapak saat ada gerhana bulan. Ahh memang kadang saya suka tertawa lirih mendengar celoteh cerita bapak.

(sumber www.sehatnegeriku.kemkes.go.id)

Satu diantara 12 anak kakek yang memiliki sedikit perbedaan fisik bernama paman Wulyono. Tingginya tidak sama dengan orang-orang seumurannya. Saya memberanikan diri untuk bertanya ke bapak, “Pak kenapa kok paman Wulyono udah gede gitu, tapi tingginya beda jauh sama paman yang lain?” Sembari minum kopi bapak saya menjawab,” Memang itu bawaan dari lahir le!” begitu kata bapak saya singkat. Saya tidak bertanya lebih jauh, takut menyinggung perasaan bapak karena paman wulyono adalah adik kandungnya.

Di kampung saya hanya mengenal tubuh pendek itu dengan sebutan cebol. Orang-orang kampung pun membubuhkan nama paman Wulyono itu menjadi Wulyono cebol. Saya hanya percaya dengan bapak akan pendeknya paman wulyono memang takdir dari yang Maha Kuasa.

Di era milenial saat ini kata cebol itu akhirnya terkuak. Paman wulyono mengidap kekurangan gizi yang memiliki nama ilmiah stunting. Ya, nama yang belum begitu familiar di telinga. Saat saya coba gali informasi sana-sini memang benar adanya bahwa paman wulyono terkena stunting. Masyarakat desa saya lebih kenal dengan sebutan “Cebol” yang pada dasarnya bermakna sama dengan stunting. Pengidap stunting memiliki tinggi badan yang tidak sesuai dengan orang seumurannya. Tinggi badan paman yang sekarang sudah berusia 44 tahun hanya berkisar 112 cm. Kondisi ini terjadi akibat dari kurangnya asupan gizi sejak dalam kandungan. Akibatnya pertumbuhan janin tidak maksimal, kesehatannya terganggu dan postur badannya lebih pendek.  Sampai dewasa pun kini dia tetap memiliki tubuh yang pendek.

Ironisnya stunting tidak hanya dialami oleh paman saya atau sebagian kecil anak Indonesia. Hasil pemantauan status gizi yang dilakukan oleh kementerian kesehatan pada tahun 2017 di 34 provinsi di Indonesia menunjukkan balita terkena stunting sebesar 29,6%. Artinya jika dibuat perbandingan 3 dari 10 anak yang dilahirkan mengalami pertumbuhan yang kurang maksimal. Satu data lagi yang membuat jidat saya mengkerut bahwa Indonesia merupakan negara terbesar ke 4 dengan angka stunting (kerdil) terbesar. Total ada 9 juta anak balita Indonesia mengalami stunting

Balita Indonesia Terkena Stunting 2017
29.6%

Negara Ke 4 Jumlah Stunting Terbesar

0

Tidak hanya tinggi badan yang kurang. Stunting yang dialami oleh paman saya juga berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidupnya. Sampai saat ini, karena tubuhnya yang tidak sesuai dengan tinggi badan orang rata-rata membuatnya sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Tau sendiri kan pekerjaan seperti TNI, Polri, Karyawan perusahaan memberikan prasyarat minimal tinggi 165 cm. Selain fisik paman juga kesulitan belajar karena kemampuan akademiknya di bawah rata-rata kalah bersaing dengan orang-orang sekitar.  Pun demikian dengan pasangan hidup yang juga tak kunjung datang.

Sesak rasanya jika harus menceritakan sepenuhnya perjalanan hidup memilukan paman saya.  Tapi setidaknya yang dialami oleh paman menjadi sebuah hikmah tersendiri untuk anda sebagai pembaca. That’s Why perlu untuk dilakukan langkah preventif agar stunting tidak meluas mendera anak-anak Indonesia. Apa penyebabnya, bagaimana meminimalisir penyebab itu sehingga jumlah anak terlahir stunting bisa di tekan jumlahnya.

Paman Wulyono (Dokpri)
Tinggi Paman Wulyono 115 cm (Dokpri)

Pada dasarnya stunting terjadi karena kekurangan asupan zat gizi seperti vitamin, mineral dan sumber protein hewani. Ketidaktahuan sang ibu akan kebutuhan gizi saat hamil dan menyusui sangat berpotensi membuat anak stunting. Prosesnya dimulai selama seribu hari pertama dari fase kehamilan atau saat anak dalam rahim. Usai lahir sampai anak berusia 2 tahun, si buah hati tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup utama asi eksklusif dari ibu. Kakek saya juga tidak begitu paham mengenai kesehatan ke 12 anak satu persatu. Terlebih waktu tahun 70an, pemerintah belum begitu menggalakkan pencegahan stunting seperti sekarang.

Dalam rangka Pencegahan Stunting. Saya ingin mengkerucutkannya dari dua sisi yang berbeda. Pertama dari lini keluarga sebagai tempat untuk melahirkan anak. Kedua dari sisi pemerintah selaku pemangku kebijakan melalui regulasi yang mampu menciptakan program-program pencegahan stunting.

1. Pencegahan Dari Keluarga

Keluarga menjadi madrasah peradaban pertama bagi anak. Melalui keluarga anak di didik fisik maupun mentalnya. Keluarga yang berkualitas akan melahirkan anak yang tentu juga berkualitas. Sebaliknya, akar penyebab anak terkena gangguan gizi stunting juga bisa sekaligus dialamatkan kepada keluarga. Paman Wulyono terkena stunting dimulai dari keluarga yang mempunyai permasalahan yang kompleks dengan gizi.  Keluarga kakek pada masa itu belum terlalu aware tentang kebutuhan gizi ibu hamil dan menyusui. Sudah cukup paman wulyono dan sebagian anak-anak lain di luaran sana yang saat ini sedang mengidap stunting. Tak perlu ada penambahan jumlah kekurangan gizi stunting lagi.

Serentetan proses pemenuhan gizi harus dipenuhi sejak anak berada dalam kandungan. Dimulai dari kehamilan, terbentuknya organ tubuh satu persatu mulai dari jantung, otak, tangan dan kaki. Jika anak masih di dalam kandungan sementara ibu kurang menyerap gizi yang dibutuhkan oleh maka kemungkinan perkembangan janin tidak optimal. Organ-organ tubuh yang seharusnya tumbuh secara normal akan berpotensi mengalami kelainan. Ini lah asal mula terjadinya stunting pada anak.

Langkah Preventif Mencegah Stunting (sumber : www.sehatnegeriku.kemkes.go.id)

Gizi yang dibutuhkan tidak bisa diterjemahkan sendiri oleh ibu. Sebab setiap orang memiliki kebutuhan gizi yang berbeda. Perlu konsultasi rutin ke bidan atau ahli kesehatan. Terlebih untuk ibu hamil sudah bisa dipastikan kebutuhan gizi nya akan meningkat. Makan untuk dirinya sendiri dan untuk sang jabang bayi yang sedang di kandungnya.

Bergizi juga tidak perlu mahal, sehat juga tak perlu mahal. Sebagian bahan makanan bergizi seperti sayur dan buah bisa kita tanam di sekitar pekarangan rumah atau kebun. Jangan lupa juga olah raga khusus ibu hamil dan jalani pola hidup sehat. Jangan pernah sentuh rokok, minum-minuman keras dan zat adiktif yang bisa membahayakan janin terganggu pertumbuhannya.

Rutin memeriksakan anak saat hamil maupun menyusui kepada dokter/bidan (dokpri)

Setelah buah hati lahir berikan perlindungan imunisasi dan rutin mengunjungi posyandu. Kadang saya masih menemukan keluarga yang apatis terhadap program penyuluhan, edukasi dan imunisasi. Alasannya sangat mendasar, karena tidak ada waktu untuk pergi mendengarkan sosialisasi tenaga kesehatan yang datang ke desa-desa.

Selain asupan gizi penyebab stunting adalah jarak kehamilan yang terlalu pendek, hipertensi, gangguan mental ibu, dan kehamilan remaja. Penting bagi Jomblo-jomblo seperti saya mengetahui kebutuhan dasar ibu hamil dan menyusui baik kebutuhan gizi maupun mental istri. Sebab stunting perlu di cegah dari hulu hingga hilir. Dari mulai seseorang menikah sampai mempunyai anak yang sehat dan cerdas sebagai investasi untuk keluarga bangsa dan negara.

2. Sinergi Pemerintah

Pemerintah pusat sampai daerah sudah semestinya saling bergandengan tangan. Tidak berjalan sendiri-sendiri, baik dalam regulasi maupun saat sosialisasi. Melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan seperti puskesmas, rumah sakit, tenaga kesehatan di daerah terpencil. Dengan sinergi jangkauan pemerintah dalam mengedukasi masyarakat menjadi lebih luas sampai ke desa-desa terpencil sekalipun. Sebab mayoritas masyarakat kurang mampu yang kadang kala tidak menerima edukasi terkait dengan gizi dan stunting berdomisili di wilayah pelosok yang termarginalkan.  

Pelayanan kesehatan, baik fasilitas, tenaga kesehatan maupun perlakuan terhadap masyarakat terutama untuk ekonomi menengah ke bawah juga harus maksimal. Fasilitas yang memadai ini perlu dikombinasikan dengan tenaga kesehatan yang andal lagi ramah perangainya. Tidak memandang miskin atau kaya, darah biru atau darah merah. Yang jelas dia adalah rakyat Indonesia yang berhak mendapat pelayanan kesehatan yang prima.

Tidak kalah penting juga untuk melibatkan pegiat media sosial. Sosialisasi secara langsung mungkin sudah, kampanye dari mulut ke mulut tertunaikan. Sekarang tinggal menggandeng blogger, vlogger dan pegiat media sosial lain. Pelaku Industri dunia maya memiliki jangkauan yang tidak terbatas dan lebih efisien karena mayoritas masyarakat sudah memegang handphone atau laptop. Yahh pokoknya nggak jauh beda lah saat anda sedang baca tulisan ini, pasti pakai laptop atau handphone kan?

Edukasi dan sosialiasi oleh tenaga kesehatan dan pemerintah untuk mencegah kekurangan gizi (dokpri)

Nah jika keluarga dan pemerintah sudah berusaha untuk menuntaskan permasalahan stunting. Ada baiknya saya dan anda juga mengambil peran. Peran apa? Ya apa aja yang penting bisa ikut memberikan sumbangsih untuk keberlangsungan anak Indonesia yang lebih cerdas dan sehat. Bisa dengan share informasi di media sosial, diskusi dengan tetangga atau membiasakan pola hidup sehat. Setidaknya kita mampu menjadi duta anti stunting untuk diri kita sendiri, keluarga dan orang sekitar rumah.

Lantas seperti apa nasib saudara-saudara kita yang stunting?

Tanamkan dalam mindset kita bahwa tuhan tidak pernah menciptakan produk gagal. semuanya sempurna dan pas pada porsinya. Stunting tidak menjadi akhir dari segalanya. Aditya dev, Julie krone bahkan sampai ucok baba adalah segelintir penderita stunting yang berprestasi. Baik itu di dunia olahraga maupun hiburan.

Paman wulyono tidak bekerja di perusahaan atau abdi negara. Beliau memilih untuk berwirausaha, jualan es dan makanan ringan di depan rumah. Meskipun memiliki tubuh yang pendek paman saya itu termasuk tipe orang yang cenderung suka kesenian. Dari rasa sukanya itu kadang dia mendapatkan uang dari pementasan kuda lumping di desa-desa. Aktivitasnya itu membuatnya tidak menjadi benalu yang merugikan, tetapi menjadi anggrek yang sedap dipandang mata tetapi tetap perlu bimbingan dari orang sekitarnya. Usaha yang dilakukan oleh paman wulyono bisa aplikasikan untuk para anak stunting di Indonesia. Dengan bimbingan, arahan dan pelatihan mereka bisa lebih produktif untuk bisa menopang kehidupannya.

Paman Wulyono tetap bisa berkarya melalui kesenian dan wirausaha meskipun stunting

Manusia adalah aset negara paling berharga melebihi emas, perak bahkan permata. Semakin banyak saudara kita yang terkena stunting akan berdampak pada kondisi ekonomi, pembangunan dan daya saing SDM Indonesia. Bersama-sama bergerak mencegah stunting baik dari pemerintah keluarga maupun kita semua. Sebab anak adalah investasi masa depan. Para pewaris tampuk kepemimpinan dan elemen terpenting untuk mewujudkan masyarakat Indonesia sehat.

Disclaimer

Blogpost ini diikutsertakan dalam kompetisi media sosial dan media massa kementerian kesehatan

Sumber Referensi

– Website resmi sehat negeriku (http://sehatnegeriku.kemkes.go.id)

17 thoughts on “Stunting dan Dampak Memilukan Yang Harus Kita Cegah!!

  1. saya jadi tahu kalau stunting itu ternyata karena kekurangan gizi, saya kira kelainan atau semacam mutasi genetik (kekurangan hormon pertumbuhan) seperti halnya dwarsifm.

    apakah ada perbedaan antara stunting dan dwarfism

  2. Sebelumnya saya tidak pernah mendengar istilah Stunting dalam dunia kesehatan. Tulisannya mencerahkan, Mas. Semoga jadi banyak yang tau tentang Stunting ya.

  3. Semoga makin banyak yang menyadari masalah stunting ini yah, di daerah saya sendiri masih sangat jarang tentang penyuluhan masalah stunting ini

  4. Semoga dengan adanya informasi seperti ini bisa mengurangi jumlah stanting di Indonesia yah. Karena stanting ternyata bukan keturunan melainkan kekurangan gizi yah

  5. Ga banyak orang yang aware soal stunting ini. Kebanyakan pasrah, bilang memang begitu dari lahir. Memang ada kemungkinan demikian, tapi bisa juga kejadian karena ada zat gizi yang alpa/kurang dipenuhi.

  6. stunting mulai gencar dipublikasikan oleh pemerintah, karena presentasi angka stunting di Indonesia yang meningkat cukup signifikan. dengan adanya info seperti ini jadi bikin calon ibu, ibu serta keluarganya bisa makin pinter buat pilih-pilih asupan nutrisi agar anak mereka tumbuh sehat dan cukup gizi

  7. Saya baru tahu kalau kurangnya asupan gizi menjadi penyebab stunting. Semoga dengan banyaknya informasi yang kini mudah diakses oleh siapa saja dapat membuat anak-anak Indonesia tumbuh berkembang dengan baik, sehat fisik maupun mentalnya

  8. Bener banget nih Indonesia termasuk negara terbesar dengan anak Stunting, kebetulan kemarin baru dapat pembelajaran lagi tentang Stunting dari pak Doddy Kemenkes dan dr. Klara sedih banget karena memang Stunting ini perlu sekali di informasikan agar tau bagaimana mencegah stunting.

  9. Kondisi ibu hamil selalu pengaruh ya sama yang di dalam kandungan. Semoga ibu-ibu hamil di luar sana selalu sehat juga ya!

  10. Banyak anak memang banyak rejeki ya, tapi kalo jadinya kurang perhatian jadi kasihan anak2nya. Apalgi kalo sampe mnegalami stunting. Makasih infonya ya mas.

  11. oalaaah ternyata cukup tinggi juga yak angka stunting di Indonesia. Sementara di Belanda dengan tinggi 170 cm aja udah termasuk golongan pendek hahahah

  12. selama ini masyarakat mengira kalau cebol itu merupakan takdir tapi ternyata ada penjelasan medis-nya. Semoga semakin banyak orang yang memiliki kesadaran untuk mulai mengkonsumsi makanan bergizi buatan sendiri yang sudah terbukti bersih dan sehat agar Indonesia bebas stunting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *