Lifestyle

Sahabatku Sekarang Bernama I-Jakarta!! Kamu??

“Apa perbedaan orang Indonesia dan turis mancanegara??”, Kata dosen bahasa Indonesia saya ketika mengajar di kelas. Beberapa teman dalam kelas itu mencoba merespon dengan jawaban yang bermacam-macam. “Orang mancanegara lebih putih warna kulitnya, lebih tinggi dan rambutnya pirang”. Sejumlah jawaban itu terlontar namun tidak satu pun yang benar. Pada akhirnya dosen memberi jawaban bahwa “Orang mancanegara tidak pernah melupakan buku ketika bepergian sedangkan orang Indonesia sangat sulit ditemui yang membawa buku bacaan ketika bepergian”. Awalnya saya belum begitu percaya dengan ungkapan dosen itu. Namun setelah sepintas mengamati beberapa turis mancanegara yang sedang liburan di Jakarta memang ungkapan itu benar adanya. Ditambah lagi dengan riset yang pernah dilakukan oleh badan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Menurut riset Unesco tahun 2012 budaya membaca Indonesia berada di ranking terendah diantara 52 negara asia. Itu Artinya dari 1000 anak Indonesia hanya 1 diantaranya yang membaca buku.” Nah loh ngaku kan sekarang kalau jarang baca buku??. Jika dilihat secara kuantitas memang Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki luas wilayah dan penduduk yang besar. Namun secara kualitas budaya membaca memang tidak terpatri di setiap individu negeri ini.

Jika masih belum percaya mengenai fakta itu. Bandingkan saja suasana perpustakaan dan Pusat Perbelanjaan atau mall yang ada di Jakarta. Pusat perbelanjaan ramai setiap hari tidak pandang musim rambutan atau durian. Setelah itu lihat bandingkan lagi bagaimana suasana pengunjung perpustakaan. Tentu hasilnya sangat bertolak belakang bukan?? Gaya hidup glamor dan mewah memang sejatinya banyak disukai. Sesuatu hal yang seru seperti main game itu lebih disukai dibanding dengan berkunjung ke perpustakaan yang sebagian orang menganggap itu sebagai suatu kegiatan yang membosankan.

Namun itu dulu, Ya dulu waktu perpustakaan masih tradisional. Buku-buku masih tersusun rapi di rak karena jarang ada yang menjamah. Suasana perpustakaan sepi pengunjung. Perpustakaan ramai jika ada kegiatan seperti peringatan HUT RI, hari membaca ataupun ada seminar. Kalau sekarang memang perpustakaan tidak banyak berubah tetap sepi seperti dulu, Namun perbedaan yang menjadi nilai tambah adalah semua warga Jakarta sudah punya perpustakaan yang bisa dibawa kemana-mana. Loh kok perpustakaan bisa dibawa kemana-mana?? Ya, kini telah hadir perpustakaan digital IJakarta. Tantangan untuk menciptakan suasana perpustakaan yang berbeda direspon oleh pemerintah Jakarta. Melalui sebuah pagelaran Anak Jakarta membaca. Pemerintah Jakarta meluncurkan sebuah aplikasi bernama Digital Library I Jakarta pada Oktober 2015. Perpustakaan konvensional kini berubah menjadi digital library I-Jakarta yang lebih modern dibalut dengan aroma anak muda yang kekinian namun tetap smartdan berbudi pekerti.

Sekarang Sudah Ada Digital Library I-Jakarta

Saya sendiri awalnya tidak begitu antusias ketika mendengar kabar di koran dan di beberapa media tentang digital library I-Jakarta. Tetapi setelah saya download aplikasi itu via komputer dan smartphone akhirnya saya rasakan manfaatnya. Apalagi ketika mengerjakan tugas dari dosen yang perlu banyak referensi. Buku perpustakaan kampus belum terlalu lengkap untuk mendukung mahasiswanya dalam mengerjakan tugas. IJakarta menjadi andalan terdepan ketika deadline tugas itu datang. Sampai sekarang IJakarta sudah menjadi sahabat virtual yang selalu menemani kapanpun dimanapun. Tidak hanya ketika kuliah atau belajar dirumah, ketika jalan-jalan ke mall saya sempatkan membuka e bookdari I Jakarta sambil menunggu ibu yang sibuk berbelanja. Jadi sekarang tetap ke mall namun tidak melupakan aura perpustakaan yang sudah di download di smartphone.

I Jakarta juga sebagai sebuah jawaban atas semakin majunya dunia komunikasi dan informasi. Di zaman serba digital seperti sekarang semuanya sudah terintegrasi dengan aplikasi smartphone dan komputer.  Kita dituntut untuk beraktivitas serba dinamis. Dunia digital bisa diibaratkan seperti sebilah pisau tajam. Jika pisau itu dimanfaatkan untuk keperluan yang bermanfaat tentu akan mendapatkan nilai guna yang bermanfaat pula. Namun jika kita tidak bisa mengendalikan terjangan dunia digital, maka bisa jadi malah menjadi boomerang bahkan mungkin kita bisa diperbudak seperti pisau tajam yang bisa menusuk kita setiap saat.

Ini beneran terjadi lho!! Lihat saja kabar-kabar di televisi yang menyebutkan bahwa korban penipuan, penculikan ataupun cyber bullying akibat pemakaian digital internet yang kurang bijak.  Di satu sisi dunia digital akan mempermudah kita untuk mengerjakan sesuatu namun jika dilihat dari perspektif lain dunia digital akan berdampak negatif terhadap kehidupan jika kita tidak mampu mengendalikannya. Bagi saya I Jakarta meminimalisir dampak negatif dari penggunaan digital internet itu. Kebiasaan malas membaca buku konvensional kini akan berubah dengan adanya I Jakarta. Belajar menjadi lebih fleksibel tanpa terpengaruh batas ruang dan waktu.

Untuk menggunakan I Jakarta anda bisa download di smartphone via google play store atau PC. Kemudian anda bisa pilih login dengan facebook atau email. Isi semua data diri dan setelahnya anda akan disuguhkan ratusan ribu e-book sesuai dengan keinginan. Banyak sekali genre buku yang bisa dipinjam mulai dari Buku sekolah elektronik, cerpen, sampai buku tentang gaya hidup dan hiburan. Sedikit tips bagi anda sebelum meminjam buku. Silakan baca sinopsis dan testimoni pembaca di kolom ulasan. Hal ini untuk meminimalisir ketidaksesuaian kebutuhan bahan bacaan dengan buku yang dipinjam.

Usai di download melalui play store langkah saya selanjutnya adalah menjadikan I Jakarta sebagai sahabat. Nah trik yang saya terapkan adalah menaruh aplikasi I Jakarta di layar depan smartphone. Kenapa harus ditaruh di layar depan smartphone?? Ya, Jadi ketika saya membuka smartphone aplikasi pertama yang saya lihat adalah I Jakarta. Dengan demikian sugesti untuk membuka I Jakarta selalu terjaga. Sebagai permulaan saya menerapkan sistem “Every day reading I Jakarta” (Setiap Hari membaca I Jakarta). Kadang sehari saya habis 5 sampai 10 halaman. Dalam tempo peminjaman buku selama 3 hari sesuai ketentuan I Jakarta paling banyak saya bisa baca sampai 50 Halaman. Trik ini saya lakukan karena saya masih percaya dengan ungkapan “Bisa Karena Terbiasa”. Membiasakan membaca maka minat baca itu otomatis akan tumbuh dengan sendirinya. Trik yang saya terapkan ini tentu bisa anda tiru untuk menumbuhkan minat baca dengan I Jakarta. Gimana mudah, praktis dan cepat kan bersahabat dengan I Jakarta??

Oh ya., fungsi I Jakarta ini juga mirip dengan media sosial seperti halnya facebook dan twitter. Aktivitas peminjaman buku akan otomatis terekam dan muncul di timeline I Jakarta. Begitupun dengan aktivitas pengguna I Jakarta lain. Kita bisa likeatau comment mengenai buku yang mereka pinjam. Fitur ini juga berguna bagi kita untuk berinteraksi dengan pengguna lain jika ada pertanyaan mengenai buku yang sedang dipinjam.

Jika sudah demikian masyarakat Jakarta akan menghadapi babak baru dalam menumbuhkan budaya literasi. Sudah waktunya untuk melihat karya anak Jakarta dari hasil membaca buku di I Jakarta. Yang memiliki hobi fotografi bisa meminjam buku tentang fotografi. Yang hobi dengan aplikasi dan jaringan komputer bisa menciptakan karya baru melalui tutorial dari buku yang sudah tersedia. Jika penduduknya sudah smart menggunakan I Jakarta maka untuk mencapai Jakarta sebagai smart city tentu akan lebih mudah.

Mari Bersahabat Dengan I Jakarta

Ke depan budaya literasi bukan hanya sebuah wacana. Melainkan sebuah kultur budaya yang melekat di kalangan masyarakat Jakarta. Jika literasi sudah menjadi sebuah kultur budaya maka banyak dampak yang akan kita rasakan. Secara luas literasi akan meningkatkan pengetahuan dan mengubah pola pikir. Pola pikir ini akan mempengaruhi tingkah laku dan budi pekerti kita. Banyak sekali masyarakat pintar namun tidak memiliki budi pekerti luhur seperti adat ketimuran yang tertanam di Indonesia. Buku di dalam I-Jakarta tidak hanya dalam lingkup pengetahuan umum. Banyak buku yang mengajarkan budi pekerti dari hikmah cerita ataupun buku agama.

Kebijakan meluncurkan sebuah perpustakaan digital I-Jakarta ini tidak akan berarti apa-apa tanpa dukungan kita semua. Ya., kita semua para masyarakat dan generasi muda Jakarta. Mari membuka cakrawala dunia dengan bersahabat dengan digital library IJakarta. Mulai dari diri sendiri kemudian diteruskan ke orang terdekat. Barulah semua akan merasakan manfaat membaca.

Sahabat dekat penuh ilmu saya sekarang bernama I Jakarta!! Bagaimana dengan kamu?? 



Artikel Ini Ditulis Untuk Mengikuti Lomba Konten Blog Dalam Rangka Hanjaba (Hari Anak Jakarta Membaca) 2016 yang diselenggarakan Oleh BADAN PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH #BloggerHanjaba

27 thoughts on “Sahabatku Sekarang Bernama I-Jakarta!! Kamu??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *