Reportase

Perkebunan Sektor Penumpu Kesejahteraan Rakyat

“Lokasinya di menara 165 Cilandak ya anjar nanti kita berangkat bareng pakai motor!!” begitu kata temanku mengajak untuk berangkat bareng menuju lokasi peluncuran buku “Perkebunan Pemerdekaan Indonesia”. Mengingat lokasi yang tidak bisa dijangkau dengan bus trans Jakarta aku langsung mengiyakan ajakan itu. itung-itung ada teman ngobrol di jalan. Meskipun kami berdua tidak tau betul jalan menuju tempat acara. Dengan keyakinan karena bermodalkan GPS yang sudah ada ponselkita berangkat ke kawasan TB Simatupang.
Satu jam berlalu akhirnyasaya menginjakkan kaki untuk kali pertama di gedung menara 165 ground floor ruang cordoba. Suasana masih sepi karena acara yang terjadwal jam 12.00 saya sudah di lokasi sejak jam 11.15. Sambil menunggu saya sempatkan untuk melihat-lihat lokasi berlangsungnya peluncuran buku dan diskusi. Terlihat sebuah banner yang bertuliskan “Kesuksesan Perkebunan Tanpa Kemajuan Industrialisasi”. Sebuah tema yang menyangkut dua elemen yang saling terkait antara perkebunan dan industri coba untuk diulas lebih mendalam di sesi diskusi ini.  Tajuk diskusi itu diambil karena sektor perkebunan dan industrialisasi selama ini kurang ada kerja sama dan terkesan berjalan sendiri-sendiri.
Dua aspek perkebunan dan industrialisasi bisa saling berkaitan bahkan bisa juga bersebrangan. Jika industri berkembang maka lahan perkebunan berkurang lantaran pembukaan lahan baru untuk industri yang memakan lahan perkebunan. Nah jika perkebunan yang maju maka sektor industri tidak punya cukup lahan untuk mengembangkan sayapnya. solusinya dua elemen ini harus saling bekerja sama. Perkebunan tidak hanya menanam kemudian memanen dan dijual. Namun ada proses industri yang bisa bercampur untuk mengolah hasil perkebunan itu sehingga bisa mendapat nilai tambah. Kelapa sawit yang dipanen tidak langsung dijual namun diolah menjadi minyak goreng untuk kemudian di ekspor. Kopi tidak langsung dijual setelah dipetik. Untuk menambah nilai jual kopi diolah dulu untuk mendapatkan sajian kopi yang berkualitas.  Jadi antara perkebunandan industrialisasimenciptakan sebuah kerja sama yang berkelanjutan.
Diskusi bertema Kesuksesan Perkebunan tanpa Kemajuan Industralisasi
Jika dilihat kekayaan Indonesia memang sudah tidak diragukan lagi. Perkebunan menjadi sebuah sektor yang bisa diandalkan karena kesuburan tanah di Indonesia. Buah kurma dan tin yang notabene buah kering dan tergolong dalam tumbuhan padang pasir. Bisa tumbuh dan berbuah saking suburnya tanah Indonesia. Seorang ulama besar asal suriah pernah ke Indonesia pada tahun 70-an.  Dia adalah Almarhum Syaikh ali thanthawi. Dia kagum dengan pesona Indonesia dan berkata “Di muka bumi kalau mau lihat surga,,. di Indonesia tempatnya”. Suatu ungkapan yang menurut saya memang menjadi sebuah kenyataan. Begitulah orang luar negeri pernah mengagungkan tanah air Indonesia. Bahkan jika dirunut sejarah para penjajah dan sekutu datang ke Indonesia karena ingin mengeruk rempah-rempah hasil perkebunan Indonesia. Kita sebagai warga Indonesia asli. Patut berbangga terhadap kekayaan ini. Lantas memanfaatkan dengan bijak hasil perkebunan sebagai mata pencaharian.
Prof. Dr. Ir Agus Pakpahan  
Direktorat jenderal perkebunan terus melaksanakan sosialisasi demi melakukan transfer ilmu tentang perkebunan di Indonesia. Salah satunya melalui majalah teropong dan buku yang baru diluncurkan Selasa 3 Mei 2016 yang ditulis oleh Prof. Dr. Ir Agus Pakpahan yang juga turut hadir pada acara itu. Bukuitu  berjudul Perkebunan Pemerdekaan Indonesia. Sebuah judul buku dengan kata-kata yang tidak biasa. Pemerdekaan dipilih karena perkebunan bisa menjadi sebuah motor penggerak yang memerdekakan masyarakat secara penuh jika penanganannya benar. Total Indonesia memiliki 11.440.000 Ha lahan kelapa sawit dan 12.340.000 Ha perkebunan non sawit. Sebagian besar masih dikuasai oleh para kapitalis dan investor asing. Jika masyarakat dan pemerintah misalnya BUMN dalam hal ini PTPN yang memiliki peran besar dan menjadikan perkebunan berbasis kerakyatan. Tentu perkebunan menjadi salah satu lapangan pekerjaan yang bisa diandalkan.
Di acara peluncuran buku dan diskusi itu juga turut hadir bapak Dr.MT Felix Sitorus. Beliau lebih memandang dari perspektif sosiologi perkebunan. Cara untuk memanfaatkan perkebunan dan mengeksplorasi seluruh kekayaan perkebunan di Indonesia. Masyarakat bisa mengembangkan perkebunan berbasis komunitas. Perkebunan di kelola secara bersama-sama seperti halnya koperasi. Dengan komunitas, masyarakat bisa saling bertukar pikiran cara yang tepat untuk mengembangkan potensi perkebunan.
Marilah kita berkaca pada Korea yang bisa maju dalam kurun waktu 35 tahun berkat hasil perkebunan. Mereka membuat Industri berkelanjutan. Seperti padi yang tidak hanya dimanfaatkan biji berasnya. Sekam padi bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik sehingga tidak ada satu pun semua hasil perkebunan yang terbuang. Jika dibandingkan,, luas lahan di Indonesia dengan Malaysia, Singapore dan Korea sekalipun. Tentu Indonesia memiliki lahan yang lebih luas. Indonesia memiliki Kita memiliki 15 juta Ha yang bisa dimanfaatkan untuk menyejahterakan rakyat. Sekarang tinggal elemen masyarakat dan pemerintah saling bersinergi untuk memanfaatkan perkebunan menjadi leading sektor yang memakmurkan masyarakat.
Peluncuran Buku Perkebunan Pemerdekaan Indonesia

One thought on “Perkebunan Sektor Penumpu Kesejahteraan Rakyat

  1. Diskusi nya cukup seru, apalagi saat Bapak yang si meja Kanan depan bertanya? Sangat bersemangat.Buku nya juga bagus dan bermanfaat untuk menambah wawasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *