Lifestyle

MTQ dan Sebuah Refleksi Kehidupan Sederhana

Tidak ada orang sedemikian pintar sehingga dia tahu segalanya, tidak ada pula orang yang sedemikian bodoh sehingga tidak mengetahui apa-apa. Yang ada hanya seseorang yang mau belajar dan mensyukuri nikmat lantas memaksimalkan nikmat itu untuk kemaslahatan bersama. Kata ini menjadi sebuah filosofi kehidupan sekaligus prinsip hidup. Terutama untuk saya yang sampai saat ini masih sangat haus dengan ilmu dan prestasi. Setiap potensi yang ada dalam diri ini sejatinya memang diperoleh dari pembiasaan yang tiada henti, mempelajari, mencari dan mengimplementasikannya. So, tidak ada orang bodoh yang ada cuma orang yang malas belajar.

 

Semakin saya belajar menyelusuri lautan ilmu, semakin tak terlihat dimana letak dermaga akhir dari proses belajar itu. Analogi penyederhanaan yang relevan untuk memberi peringatan bahwa ilmu dan kehidupan adalah satu kesatuan utuh dan terintegrasi. Hidup perlu ilmu dan ilmu membuat kita hidup. Semakin saya belajar semakin terlihat miskinnya ilmu dalam diri ini. Oleh karenanya, tidaklah patut seseorang itu sombong akan ilmu yang telah dimiliki. Tidaklah layak seseorang menyombongkan diri atas secuil ilmu. Justru ilmu yang diperoleh membuat orang semakin rendah hati terhadap sesama. Ibarat ilmu padi, makin berisi makin merunduk.

Praktik nyata yang menjadi refleksi kehidupan layaknya ungkapan saya diatas tercermin pada Gelaran MTQ Kabupaten Paser. Gelaran MTQ di pertengahan Maret 2018 membuktikan secara gamblang, bahwa saya yang tidak punya ilmu dan basic pendidikan agama secara formal, ta’lim jarang-jarang dan ngaji pun masih blepotan. Tetap bisa berkarya dengan sebuah usaha dan militansi mendalami ilmu agama.

Tatkala notifikasi WA muncul dan saya diajak oleh seorang ustadz, “Anjar mau ya ikut MTQ cabang lomba makalah Al Quran?” Dengan cekatan saya balas,” Maaf pak saya baru ngaji kemarin sore, jadi belum punya kapasitas untuk ikut lomba Makalah Al Quran, Kalau Makalah umum mungin bisa”, jawab saya dengan nada sedikit pesimis.

Lama banget bapak yang ngajakin saya itu nggak balas-balas chat. Mungkin dia kecewa karena saya kecewain wkwkwkwk. Tapi akhirnya profil WA nya menunjukkan sedang mengetik pesan. “Nanti ada pelatihnya kok jadi bisa belajar dan waktunya kan masih lama”, balasan chat yang ini membuat saya mikir lagi. “Oke deh pak saya mau”, kata saya menyetujui salah seorang ustadz yang sampai sekarang saya kagumi karena luas pengetahuannya.  

Kesediaan saya ini tentu dibarengi dengan lurusnya niat, menata hati dan pikiran untuk belajar ilmu yang notabene belum pernah saya pelajari. Meskipun dengan ilmu yang terbatas, kemampuan ngaji yang tak pantas dan nulis Arab layaknya melukis di atas kertas. Tetapi secara perlahan saya dalami teknis dan konsep menulis makalah Al Quran. Judul yang saya angkat,”Peran Ayah dalam Pembentukan Karakter Anak”. Hemat saya, selain sebagai persiapan lomba, makalah Al Quran ini juga sebagai sarana untuk belajar jadi ayah dan bagaimana perannya dalam kelurga. Jadi dapat diambil Peribahasa “sambil menyelam minum susu manis campur coklat panas”. Berkat makalah yang saya tulis ini, Insya Allah sekarang saya udah siap jadi ayah. Tinggal kamu aja siap nggak jadi ibu untuk anak-anak kita? (no baper).

Proses tidak mengkhianati hasil, akhirnya saya berhasil menjadi yang terbaik di Kabupaten Paser di cabang lomba makalah Al Quran putra. Bukan hanya materi, piala dan personal pride. Saya juga berhak untuk mewakili kabupaten Paser di tingkat provinsi. Tentu keseluruhan hasil ini bukan mutlak karena usaha saya. Peran Allah adalah yang utama dari sebuah doa yang telah dihaturkan oleh ibu saya tercinta. Di sepertiga malam ibu saya senantiasa ngejapri Allah berharap hasil yang terbaik untuk anaknya. Tanpa doanya dan campur tangan Allah. Saya hanya seonggok jasad yang tak berguna (thanks mom).

Rombongan kafilah Paser Bertolak dari Bandara Sepinggan Balikpapan

Wusss tepat sebelum subuh saya berangkat dengan teman-teman kafilah Kabupaten Paser ke Kabupaten Berau sebagai tuan rumah MTQ tingkat Provinsi. Keberuntungan juga buat saya dikumpulkan dengan anak-anak muda pecinta Al Quran. Para Hafiz/hafizah, mufasir-mufassirah dan qari/qariah yang mampu membacakan bait Al Quran dengan begitu merdu, mendayu dayu dengan berbagi pilihan lagu. Nggak usah nanya saya hafal berapa juz, karena juz 30 pun saya masih belum hafal hihihi.

Can’t you find me ?

Kendati MTQ dikemas dalam bentuk lomba, tetapi esensi dari MTQ adalah bentuk refleksi kehidupan untuk back to Quran, mempelajari, menganalisis dan mengamalkan kandungan Al Quran. Bahwa semua kehidupan kita dari bangun tidur sampai tidur lagi, dari pertama diciptakan sampai kematian telah diatur dalam Al Quran. So, Al Quran is source of rule of law.

9 Jam Penuh di Depan Laptop

Hadiah yang ditawarkan di gelaran MTQ tingkat provinsi membuat saya terobsesi banget untuk menjadi yang terbaik. Bayangkan aja tuh, juara 1 dapat hadiah 18.000.000 per orang dan yang paling kecil harapan 3 itu dapat 4.000.000. Pokoknya bikin mupeng lah hadiahnya. Kalau lah saya dapat juara 1, pulang-pulang bisa langsung nglamar kamu tuh, iya kamu calon ustadzah…..ku #asek.

Obsesi ini yang mungkin membelokkan niat saya yang pada awalnya ingin belajar dan murni mengharap ridho Allah kini berubah menjadi pengen banget mendapatkan hadiah. Hasil akhirnya sudah dapat dipastikan, saya hanya sampai semifinal dan mendapatkan juara harapan. Syukur pasti, Evaluasi juga harus.

Evaluasi berharga buat saya, baik dari segi teknis maupun cara mengelola nafsu dan hati. Menang? Ya ini sebagai tujuan, tetapi bukan prioritas utama. Tidak ada rumus baku untuk mencapai keberhasilan dan kemenangan. Tetapi esensi keberhasilan dan kemenangan sejatinya tergantung kepada setiap individu memaknainya. Saya percaya kemenangan dan keberhasilan itu tidak hanya diukur dari besarnya materi yang diperoleh. Kesehatan dan kesempatan berkumpul dengan para pecinta Al Quran se Kalimantan Timur juga sebuah keberhasilan dan sarana perbaikan bagi diri saya. Justru kesempatan itu malah lebih berharga, bisa melihat anak kecil dan tunanetra dengan segala keterbatasannya mampu melantunkan ayat suci Al Quran dengan begitu fasih.., Masya Allah. Saya merasa seperti liliput di negeri raksasa. Diberi kesehatan dan kesempurnaan fisik, lha kok baca Al Quran aja masih blepotan huuffft.

Masjid Baitul Hikmah Berau

Sekalipun saya tidak berhasil dalam hal mendapatkan juara 1 seperti obsesi awal, tetapi semua terobati akibat meluruskan niat kembali kepada Allah. Manusia hanya pada batasan untuk berusaha dan berdoa sedangkan hasil akhir itu otoritas Allah untuk menentukan. Tahun depan MTQ tingkat Provinsi akan dilaksanakan di Kabupaten Paser Kalimantan Timur. Jika tidak ada aral melintang dan Allah masih memberi kesempatan, saya akan lebih maksimal berproses, belajar dan menyiapkan segalanya dengan matang. Karena Happy ending itu hasil akhir yang diperoleh dari sebuah proses yang no ending.

3 thoughts on “MTQ dan Sebuah Refleksi Kehidupan Sederhana

  1. Alhamdullillah. Barokallah, selamat yaaa…

    Baidewei, subway, aku suka sekali sama bagian ini:

    “Pokoknya bikin mupeng lah hadiahnya. Kalau lah saya dapat juara 1, pulang-pulang bisa langsung nglamar kamu tuh, iya kamu calon ustadzah…..ku”

    Manusiawi banget yaa… hahaha…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *