FamilyTips & Tutorial

Mama, papa! Aku butuh kasih sayang dan pendidikanmu

Tidak ada orang yang terlampau bodoh hingga dia tak tau apa-apa, pun tak ada orang yang sedemikian pintar hingga dia mengetahui segalanya. Sebab setiap orang dilahirkan dengan berbagai potensi dan karunia. Yang ada sekarang hanya orang yang mau belajar, mengembangkan dan memaksimalkan potensi dalam dirinya.

Inilah barangkali pola pikir yang harus tertanam di benak setiap anak Indonesia. Tidak mengurung diri dengan kata “aku tidak tau”, “aku tidak mampu” atau “aku tidak bisa”. Kata-kata keputusasaan ini membuat setiap anak membatasi diri memberi sugesti pada jasadnya sehingga tak mampu mengembangkan potensi dan karunia. Mindset anak semacam ini semestinya harus berubah. Perubahan itu dilakukan oleh anak atas arahan dan dukungan keluarga, sekolahnya pun juga orang-orang sekelilingnya.

Hanya dengan pendidikan anak mampu mengubah pola pikirnya. Baik pendidikan saat kecil di keluarga, penempaan di sekolah maupun penyepuhan dari orang-orang sekelilingnya. Keluarga, sekolah dan lingkungan yang baik akan melahirkan generasi emas 24 karat yang berharga dan tinggi kualitasnya. Inilah kawah candradimuka yang akan menjadikan anak menjadi agen-agen pembaharu dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Pendidikan menjadi sebuah alat untuk menciptakan generasi yang berpengetahuan, memiliki moral dan budi pekerti. Pentingnya pendidikan menjadikannya sebagai variabel utama barometer kemajuan bangsa. Jadi saat ingin tahu kemajuan bangsa anda cukup tanya,” Bagaimana kemajuan pendidikan bagi masyarakatnya?”. Tingginya penduduk sebuah negara yang berpendidikan akan berbanding lurus dengan indeks pembangunan manusia dan implikasi akhirnya adalah kemajuan bangsa. Baik ditinjau dari perspektif ekonomi, sosial dan budaya.

Pendidikan menjadi barometer utama kemajuan suatu negara (dokumen pribadi)

Saya termasuk anak yang dilahirkan di tahun 90-an. Pada saat itu institusi pendidikan di Indonesia belum begitu berkembang. Saya merasakan saat teman-teman satu kelas menyelesaikan sekolah hanya sampai kelas 6 SD. Mereka memilih untuk bekerja bahkan hanya menunggu pinangan pujangga hehehe. Bukan kok, bukan karena mereka tidak mau tetapi kendala datang dari ketidakmampuan untuk membayar biaya pendidikan. Berat membayar biaya sekolah, uang gedung, beli buku dan biaya lainnya.

Pola pikir masyarakat saat itu terutama di pedesaan juga masih memandang pendidikan tidak terlalu penting. Terlebih untuk anak perempuan yang dalam bahasa jawa hanya mempunyai tugas 3M “manak, macak, masak” (melahirkan, berdandan dan masak untuk suami).

Lambat laun dunia pendidikan Indonesia mengalami transformasi. Program belajar 9 tahun diteruskan sampai 12 tahun membuat katalis perubahan yang nyata. Bahkan di tahun 2018 ini tidak menjadi hal yang tabuh jika setiap anak menempuh pendidikan sampai jenjang perkuliahan.

Serentetan program pemerintah dan transformasi dunia pendidikan ini disambut dengan hadirnya dunia baru di tangan-tangan peserta didik. Era milenial melalui internet dan smartphone membuat dunia seperti dalam genggaman. Anak yang lahir di era milenial tetapi kudet dengan internet akan mendapat cemo’ohan “ ahh lu kurang kekinian nih!!!”

Anak milenial yang lebih cendurung menggunakan smartphone sampai pada level ketergantungan (dokumen pribadi)

Internet dan berbagai teknologi terus menerjang tanpa mengenal batas benua, negara dan wilayah. Masuk ke setiap daerah, menerobos ke perkampungan, menyusup melalui gang-gang sempit di perkotaan maupun desa. Walhasil seluruh diskursus kehidupan terkena dampaknya. Tidak terkecuali juga pendidikan. Dunia pendidikan mengalami perubahan signifikan dengan adanya internet dan digitalisasi kehidupan. Dari yang semula pembelajaran dengan buku, papan tulis abu-abu yang cenderung kaku. Kini berubah menggunakan e-book, visualisasi proyektor dan video pembelajaran di youtube. Pelajaran yang diterima anak di sekolah juga bisa diperdalam dengan melihat materi baik tulisan, animasi maupun video melalui internet. Bahkan dengan internet dan teknologi kekinian memunculkan metode baru seperti sekolah dan kuliah online.

Selain kecepatan dan efisiensi waktu sebagai buah dari hadirnya internet. Dunia digital di era kekinian juga menghadirkan turbulensi yang luar biasa dampaknya. Tidak jarang internet mempengaruhi dan mengontrol pola fikir seseorang sampai pada level ketergantungan. Banyak anak yang salah memakai teknologi akibat dari kurangnya edukasi dan pengawasan orang tua. Hasilnya bisa dilihat bagaimana anak generasi milenial lebih sering menggunakan media sosial sebagai media curhat, dan internet sebagai alat untuk mengakses situs berbahaya.

Fakta ini sangat kontraproduktif dengan tujuan pendidikan yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Internet yang semula digunakan untuk kemudahan dan memperluas literatur bagi siswa. Malah berbalik meracuni fikiran anak. Jika terus dibiarkan fenomena ini akan berubah menjadi deret eksponensial yang semakin hari semakin membesar jumlah anak yang teracuni dampak negatif internet.

Efek negetif internet menjadikan anak sampai pada titik candu (dokumen pribadi)

Dampak buruk ini tentu harus cepat dinetralisir sehingga anak tidak hancur bin berantakan moral dan perkembangan akademiknya. Sekolah sudah barang tentu harus mengambil peran akan fenomena anak kekinian ini. Namun demikian, banyak yang tidak memahami bahwa justru yang harus lebih berperan untuk menetralisir dampak buruk zaman milenial ini adalah keluarga. Yups, Keluarga adalah madrasah peradaban pertama bagi anak. Kualitas kelurga menentukan kualitas generasi. Saat terjadi dekadansi moral pada generasi muda, coba tengok gimana miniatur peradaban pertamanya?

Anak mengalami golden period saat di keluarga. Peluang emas pertumbuhan anak yaitu 0-6 tahun mampu menyerap 60% memorinya dan hingga 12 tahun mampu menyerap 80% perkembangan ingatannya. Ini semua sebagian besar terjadi di keluarga. Bagaimanapun perkembangan anak baik itu negatif atau positif akan dikembalikan pada memori awal yang ditanamkan pada masa-masa emas tersebut. That’s Why keluarga harus berperan aktif untuk menyelamatkan anak kekinian dari dampak buruk teknologi.

Perkembangan Golden Period Anak
0-6 60%
sampai 12 tahun 80%

Dulu Ayah mendidik saya dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Saat duduk di sekolah dasar beliau memberikan pelajaran tambahan dan sesi curhat begitu pulang sekolah. “Apa pelajaran hari ini? Ada PR atau tidak? Bagaimana suasana belajar dan teman-teman di sekolah?” Beberapa pertanyaan itu meluncur deras dan secara rutin diajukan kepada saya saat menjelang malam. Suasana ini secara tidak langsung membangun kedekatan emosional saya dengan orang tua. Kedekatan itu terbangun tidak hanya saat belajar akademik dengan mengajari matematika dan ilmu pengetahuan alam. Melainkan juga tentang akhlak moral dan budi pekerti. Hal-hal teknis seperti makan bareng satu nampan besar senantiasa dijaga. Selain alasan tidak punya meja makan khusus, makan di nampan sekeluarga juga membuat saya dan kakak begitu dekat dengan orang tua. Sebab di sela-sela makan itu pasti diselingi obrolan dan curhatan ringan.

Modal inilah yang senantiasa saya bawa ke sekolah. Energi positif dari keluarga di rumah yang membangkitkan semangat belajar. Hasilnya dari mulai kelas satu SD sampai lulus SMK saya tidak pernah lepas dari ranking tiga besar. Beberapa prestasi, sertifikat dan piala pun saya dapatkan.

Saat internet hadir dan mulai masif digunakan. Ayah juga memperkenalkannya kepada saya. Beliau mewanti-wanti dengan ungkapan “Anjar teknologi internet dan alat digital itu buat belajar bukan buat mainan. Internet hanya sebuah alat untuk mempermudah proses belajar bukan tujuan akhir. Tetap tujuan akhirnya adalah Anjar bisa menjadi anak yang cerdas dan punya sopan santun” kata-kata ini senantiasa teringat di benak saya sebagai manifestasi bahwa campur tangan orang tua kepada anaknya terkait dengan internet penting dilakukan. Edukasi yang dilakukan bukan berarti sepenuhnya dan menutup rapat-rapat anak terhadap layar smartphone dan dunia internet. Tetapi orang tua mengawasi dan mengizinkan menggunakan dunia internet secara proporsional. Menerapkan keseimbangan waktu untuk keluarga, belajar, bermain di luar dan menggunakan internet sebagai media pembelajaran.

Selain edukasi berupa nasihat. Saya juga melihat ibu dan ayah mencontohkan bagaimana mereka menggunakan smartphonenya. Hampir tidak pernah ibu apalagi ayah memainkan smartphonenya sebelum dan sesudah tidur. Kedekatan emosional saya dengan orang tua juga membuat saya membawa aura keluarga saat belajar menggunakan internet di luar rumah. Domain rumah yang begitu kuat membuat saya merasa ada ayah dan ibu yang senantiasa mengawasi setiap aktivitas yang saya lakukan dengan internet itu. 

Tidak hanya di rumah, orang tua saya juga aktif dalam kegiatan di sekolah. Dulu bapak saya adalah ketua wali murid. Setiap kegiatan yang melibatkan wali murid dan guru di sekolah bapak selalu terlibat aktif. Kepedulian beliau juga tercermin pasca libur panjang sekolah. Tidak hanya sampai pintu gerbang, ayah mengantar saya saat masuk pertama ke sekolah bahkan sampai memilihkan bangku terdepan untuk saya. Ayah hanya ingin memastikan bahwa materi pelajaran yang baik dari guru juga harus diterima secara jernih dan jelas oleh saya.

keikutsertaan orang tua untuk turut peduli dalam intitusi pendidikan menjadi dukungan moral untuk anak (dokumen pribadi)

Kedekatan saya dengan orang tua inilah yang perlu di refleksikan antara orang tua dan anak di masa kekinian. Intensitas hubungan dan komunikasi antara orang tua dan anak tentu harus ditambahkan sejalan dengan teknologi yang berkembang begitu cepat. Kedekatan anak dengan keluarga harus lebih besar porsinya dibanding dengan gadgetnya. Hal ini menghindarkan anak tidak memilki kepribadian individualis akibat dari kecanduan teknologi. Dua variabel yakni anak kekinian, teknologi kekinian tentu harus pula dihadapi dengan orang tua yang juga memiliki pola pikir kekinian. Terutama untuk menyelenggarakan pendidikan masa kini yang baik untuk anak. Setidaknya ada 5 ide dari saya untuk memberikan proteksi kepada anak saat menghadapi dampak buruk dunia digital di era kekinian sebagai manifestasi dari pendidikan orang tua kepada saya.

1. Ubah Mindset

Hal fundamental pertama yang perlu dipahami oleh orang tua saat anak terjangkit dampak buruk dunia digital era kekinian adalah tidak mempersalahkan institusi pendidikan. Sebab tanggung jawab perkembangan pendidikan anak tetap berada pada keluarga.

Kendati demikian tidak sedikit orang tua yang terperangkap pola pikir yang menganggap sekolah adalah institusi pendidikan yang menjamin segalanya bagi anak. Orang tua memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada sekolah dengan dalih mereka telah membayar mahal biaya sekolah. Ditambah munculnya full day school yang semakin menggenapi alasan orang tua untuk memberikan mandat tak terbatas kepada sekolah.

Paradigma seperti ini harus segera dirubah untuk para orang tua. Sekolah tidak sepenuhnya intens untuk memberikan pendidikan akademik dan moral secara berbarengan. Terlebih satu guru harus menanggung anak didik satu kelas yang jumlahnya tidak sedikit dan tentu mempunyai sifat, tingkat kecerdasan dan kebiasaan yang berbeda-beda. Justru orang tua lah yang lebih tahu secara personal dalam memberikan pendidikan plus bagaimana treatment khusus bagi anaknya.

2. Tingkatkan Sinergitas Antara Orang Tua dan Sekolah

Saya melihat secara kasat mata kebanyakan orang tua hanya datang ke sekolah ketika pembagian raport atau saat wisuda perpisahan. Bahkan di situasi penting semacam itupun kadang masih ada orang tua yang memilih untuk mewakilkan kepada orang lain.

Padahal hubungan orang tua dan guru yang erat semestinya bisa menjadi ajang berbagi dalam memecahkan masalah anak. Baik kesulitan akademik, perilaku anak, maupun adab pergaulan di sekolah.

Misal terjadi penurunan nilai, anak tidak masuk kelas ataupun jenis penyimpangan lain. Seharusnya peran orang tua menjadi yang utama untuk saling bergandengan tangan berkomunikasi dalam lingkup sekolah melalui guru mata pelajaran ataupun guru BK. Bermusyawarah terkait dengan sebab anak menyimpang untuk kemudian di tanggulangi bersama. Saat sekolah mengadakan rapat wali murid, orang tua juga tidak hanya hadir secara fisik. Melainkan juga berani mengusulkan ide-ide brilian. Mencurahkan segala unek-unek kepada guru wali kelas tentang berkembangan anak. Hal ini dimaksudkan agar hubungan antara orang tua, guru di sekolah berjalan produktif bagi pendidikan anak.

Dengan adanya kerja sama antara orang tua dan sekolah maka anak lebih terkontrol. Di satu sisi, anak tetap merasa sadar bahwa mereka diawasi secara saksama oleh kedua pihak, yakni orang tua dan guru di sekolah.  Di sisi lain orang tua menyadari bahwa tanggung jawab pendidikan anak tetap ada pada orang tua. Inilah yang harus di jalankan di era pendidikan kekinian. Institusi pendidikan hanya berbagi peran untuk mendidik sedangkan tanggung jawab pendidikan itu sendiri secara keseluruhan tetap berada di pihak orang tua di rumah.  Dengan demikian tercipta mekanisme harmonis dan sinergitas yang kuat antara orang tua, guru dan anak didik dalam upaya menguatkan peran keluarga di era kekinian.

Orang tua hadir untuk rapat wali murid, bermusyawarah dengan guru pengajar guna menciptakan harmonisasi pendidikan yang elegan (dokumen pribadi)

3. Luangkan Waktu Untuk Mengupgrade Diri Dengan Keilmuan Masa Kini

Sebutan orang tua itu disandangkan kepada seseorang yang mampu mendidik anaknya dengan baik. Terus belajar mengupgrade diri memberikan pendidikan terbaik untuk anaknya. Sangatlah naif jika seorang yang sudah mempunyai anak mengaku menjadi orang tua tetapi tidak megupgrade dirinya dengan ilmu kekinian. Itu sama halnya seorang yang mempunyai bola lantas dia mengaku menjadi seorang pemain bola profesional. 

Fakta orang tua ketinggalan beradaptasi dengan teknologi dibanding cepatnya anak menerima informasi akan menimbulkan permasalahan dan hilangnya tali kendali orang tua kepada anak. Oleh karena itu orang tua perlu belajar teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini bertujuan agar mereka bisa mengawasi dan mengontrol aktivitas anak dalam memanfaatkan teknologi. Tidak hanya termangu acuh tak acuh dengan aktivitas maya yang dilakukan anaknya. Ilmu parenting yang dipelajari learning by doing akan mengupgrade kemampuan orang tua. Upgrading ini perlu karena pengawasan dan kontrol penggunaan teknologi oleh orang tua bisa dilakukan atas dasar pengetahuan yang dikantongi.

Ketiga elemen ini menjadi satu kesatuan utuh yang akan meningkatkan perhatian orang tua terhadap pendidikan anak. Perhatian lebih besar yang diberikan orang tuanya membuat anak lebih cenderung memiliki prestasi dan kemudahan menyerap ilmu. Bertolak belakang dengan itu anak dengan orang tua yang acuh tak acuh menyerahkan fungsi pendidikan ke sekolahnya secara penuh akan mengalami krisis perhatian dan rentan untuk melakukan menyimpangan.

Metode pendidikan orang tua kepada anak dapat berupa nasihat ataupun memberikan contoh aktivitas yang sedang diajarkan. Misal seorang ayah ingin mengajari anak shalat maka terlebih dahulu ayah menunjukkan bahwa dirinya pun rajin shalat tepat waktu. Pemikiran anak yang lebih cenderung prakmatis akan lebih mudah menyerap apa yang dia lihat. Jangan pernah menyalahkan anak saat dirinya menjadi pemarah jika orang tua mendidiknya dengan penuh amarah. Jangan pula menyalahkan anak yang boros dan konsumtif jika orang tua rajin shopping bulanan menghabiskan uang sampai jutaan. Sebab kepribadian dan pengetahuan yang ada pada diri anak adalah cermin nyata keberhasilan seorang orang tua kepada anak.

Pendidikan orang tua dengan metode memberi contoh secara langsung bisa lebih efektif untuk perkembangan anak (sumber: web sahabatkelurga.kemendikbud.go.id)

Kewajiban orang tua kekinian tidak hanya mencerdaskan anak secara akademik melainkan juga memiliki moral, akhlak dan budi pekerti luhur. Betapa banyak orang pintar bergelar doktor maupun profesor tersangkut masalah korupsi, kolusi dan nepotisme. Oleh sebab itu kedua bekal pendidikan ilmu dan akhlak ini harus disiapkan beriringan tanpa meninggalkan salah satu diantaranya. Saat kedua hal ini sudah tertanam maka orang tua tidak perlu takut lagi dengan dampak buruk perkembangan zaman kekinian yang berpotensi mengancam si buah hati.

#sahabatkelurga

Sumber Referensi :

Web resmi sahabat keluarga

Buku Bukan Sekedar Ayah 

One thought on “Mama, papa! Aku butuh kasih sayang dan pendidikanmu

  1. Betul, Mas Anjar. Keluarga adalah tempat dimana anak-anak mendapatkan pendidikan utamanya. Keluarga memiliki peran sentral terhadap pendidikan anak, apalagi di era digital ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *