Travel

Labuan Cermin dan Wisata Sejarah di Kabupaten Berau

Pesawat yang saya tumpangi mendarat tepat pukul 15.00 wita di bandar udara Kalimarau Kabupaten Berau. Suasana wisata bahari kental terasa dari beberapa lukisan dan ornamen bandara. Derawan, labuan cermin dan hewan endemik kalimantan seperti bekantan, burung rangkong dan penyu nampak gagah terpasang di setiap sudut bandara.  Kehadiran kafilah Paser dalam rangka MTQ tingkat provinsi disambut dengan hangat oleh Pemkab Berau. Perwakilan dari kafilah di berikan kalung bunga sebagai tanda kehormatan dan selamat datang. So sweet gitu lah pokoknya,.

Bersegera kita beranjak ke penginapan. Kita di tempatkan di hotel melati, tak jauh dari Masjid Agung Baitul Hikmah tempat arena utama MTQ Provinsi. Hotel ini rasanya belum selesai dibangun, sebagian temboknya masih semi permanen. Lampu-lampunya juga belum kelar pengerjaannya.

Saya datang sebagai perwakilan lomba makalah Al Quran putra. Praktis selama 2 hari saya melakoni lomba di partai penyisihan dan semifinal. Kendati mendapatkan hasil yang tidak sesuai ekspektasi, tapi inilah hasil terbaik dari perjuangan saya. Well done, pokoknya tahun depan harus lebih baik.

Setelah berjibaku dengan buku dan laptop 2 harian. Tiba saatnya untuk jalan-jalan ke Berau… Haseek,

Coba deh wisata apa yang ada di benakmu tatkala mendengar kota Berau? Derawan pasti, ya itulah wisata yang termashur. But, isn’t the one, banyak banget wisata ciamik yang sebenarnya nggak kalah keren dari Derawan. Wisata belanja, sejarah, kuliner dan bahari tersedia lengkap di Bumi Batiwakkal ini.  

Sebelum penutupan MTQ panitia mengajak seluruh kafilah yang terdiri dari 10 Kabupaten untuk menyusuri jejak sejarah di Berau. Keraton Sambaliung, Musuem Batiwakkal dan kerajaan gunung tabur menjadi saksi sejarah peradaban kota Berau dimulai. Satu hal yang masih teringat di benak saya khusus untuk Keraton Sambaliung adalah seekor buaya gede banget yang di pajang rapi dalam sebuah etalase kaca. Kira-kira panjangnya 3 kali tinggi badan saya. Besarnya 3 kali besar tubuh saya. Nggak bisa bayangin kalau buaya itu masih hidup,. Bersyukurnya bukan buaya darat sih…,

Momen yang saya tunggu-tunggu akhirnya tiba. Saya berkesempatan untuk menjamah ujung terluar Kabupaten Berau di objek wisata Labuan Cermin. Perjalanan dari Tanjung Redeb menuju Labuan Cermin ditempuh sekitar 8 jam menggunakan mobil. Pagi-pagi buta sebelum subuh berkumandang saya sudah cuss dengan 2 mobil terdiri dari 12 orang.  Tidak ada angkutan umum dari Tanjung Redeb menuju Labuan Cermin. Praktis hanya ada penyedia travel dan rental mobil.

Jalannya lubang-lubang membuat mobil tidak bisa melaju kencang. Palingan di kisaran 50-70 Km/jam. Di dalam mobil saya udah kayak ayam tidur. Terkulai sejenak mata terpejam, saat mobil menabrak lubang sontak langsung terbangun. Begitu jalan agak mulus saya bisa bersandar di kursi mobil lagi, tertidurlah saya sampai menjumpai lubang berikutnya yang mengagetkan dan membangunkan saya lagi. Begitu seterusnya sampai terlewati 5 kecamatan dari Tanjung Redeb menuju Labuan Cermin di Kecamatan Biduk-biduk. Coba ada kamu yang menemani tentu bakalan beda ceritanya, bisa tertidur lelap di pangkuanmu (eaakk)

Di sela perjalanan, kami ber-12 disuguhkan pemandangan alam yang masih terjaga, hutan yang masih penuh pepohonan, suara serangga melengking dan hewan liar sesekali menyebrang jalan. Saya juga sempatkan untuk beristirahat di tepian jalan untuk menikmati makanan yang sudah kami bawa dari hotel. Alhamdulilah,  ada daun bawang goreng kesukaan yang membuat gairah makan makin meningkat. Lumayan sebagai penunda lapar di perjalanan yang cukup jauh.

Tidak mudah memang menjalani one day trip dari Tanjung Redeb menuju Labuan Cermin. Perjalanan yang cukup lama dipadu dengan medan yang berlubang naik turun membuat setiap orang mikir dua kali untuk datang kesini. Teman saya berkelakar,”ih mending tadi aku tidur di hotel njar, ngapaen juga kamu ngajakin aku ikut ke Labuan Cermin ini heh!!!”, katanya sambil memasang muka kusut layaknya baju yang belum disetrika 2 minggu. 

“Memang terpaksa pada awalnya bro, tapi ntar terpikat pada akhirnya”, kata saya menghibur sambil memasang roman wajah manis, semanis buliran jeruk asli. Hihihi

Benar saja, perjuangan yang lumayan berat akhirnya terbayarkan saat saya masuk Kecamatan Biduk-Biduk area wisata Labuan Cermin. Aroma ketenangan dan angin laut menyapa dengan ramah. Daun kelapa menjulang tinggi, pantai biru nan asri ditambah lalu lalang sapi membuat suasana segar pantai makin menyejukkan hati. Yesss,,, akhirnya saya injakan kaki ke tempat ini untuk kali yang pertama. Untuk menuju Labuan cermin setiap pengunjung harus menyeberang dengan perahu selama 10 menit. Satu perahu dikenakan biaya 100.000-150.000 cukup untuk 7 sampai 8 orang. Lumayan bisa bayar patungan apalagi untuk backpacker mania.

Mesin garang kapal pun dinyalakan, kita berlayar di bawah jembatan Labuan Cermin. Hijau pepohonan di tepian dan jernihnya air serasa memanggil-manggil ingin segera di selami. Saking jernihnya air, menjadikan dasar danau terlihat dengan jelas dari permukaan. Apalagi saat matahari bersinar terang menembus air. Merubah air layaknya cermin yang memancarkan cahaya sesuai nama yang disandang “Labuan Cermin”.

Saya mencoba mencelupkan tangan ke air, saya julurkan lidah lantas merasakannya,” Ahh tawar kok” kata saya cetus. Ustadz ismail ja’far yang juga masuk ke dalam rombongan langsung menjawab,” Di dalam je njar yang asin tuh, coba nyelam sampai dasar entar asin pasti”, katanya menjelaskan.

Yupps,, Labuan Cermin juga diberi nama danau 2 rasa. Berkat 2 air yang tercampur yakni air tawar yang berada di permukaan dan air asin yang berada di dasar danau.  Somehow kok bisa air tawar dan asin saling terpisah gini. Menurut hukum fisika yang masih nemplok di otak saya sih massa jenis air asin lebih berat dibanding massa jenis air tawar. Jadi air asin berada di dasar dan air tawar berada di permukaan tanpa bercampur. Saya jadi teringat sebuah ayat dalam Al Quran surah ar rahman yang artinya “Dia membiarkan dua laut mengalir keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing” (QS. Ar rahman:19-20). Maha besar Allah dengan segala firmannya.

Buat kamu yang pengen nyebur jangan lupa bawa peralatan snorkeling kemudian juga kamera underwater biar bisa sekalian ngevlog. Bagi yang mau sewa peralatan snorkeling & diving bisa langsung ke petugas penyewaan kapal. Kalau saya mah langsung nyebur ke danau, kebiasaan di kampung kalau mandi di sungai tanpa menggunakan peralatan selam. Akibatnya telinga saya kemasukan air, cukup menyiksa dan membuat saya uring-uringan.

Di dasar Labuan Cermin terdapat ikan-ikan kecil berkumpul dalam satu gerombolan layaknya serial film finding nemo. Sayangnya, ikan-ikan lucu itu hanya bisa terlihat dari permukaan. Ingin rasanya bercengkrama dengan salah satu ekor ikan itu, tapi apalah daya peralatan selam tak ada di tangan. Selain rombongan saya, ada beberapa wisatawan yang tampaknya juga sedang asyik berfoto sambil menikmati keindahan Labuan Cermin. Terdengar sayup-sayup mereka ngobrol,”Weh Bening banyune koyo koco tenanan”, retorika yang menunjukkan bahwa mereka orang jawa.

Buat kamu yang ingin menikmati Labuan Cermin lebih lama, di sini juga tersedia resort dan penginapan untuk bermalam. Terutama buat yang punya waktu dan uang lebih. Jika memutuskan untuk menginap jangan cuma bertahan di Labuan Cermin, silakan ngebolang ke destinasi lain seperti Maratua, Sangalaki, Teluk Sulaiman dan Derawan. Sayangnya, saya tidak punya waktu dan uang lebih untuk eksplor seluruh wisata itu. Selain ingin berhemat, esok hari saya juga harus pulang ke rumah. Jadi harus segera beranjak menuju penginapan untuk packing malam itu juga.

The last but not least, Sesuatu yang indah itu memang diperoleh dari rentetan perjuangan yang juga mengagumkan. Perjalanan jauh penuh tantangan membuahkan sebuah keindahan Labuan Cermin yang menakjubkan. Anyway sekarang sudah jam 2 malam dan rasanya mata udah merem melek. Silakan corat-coret di kolom komentar jika ada typo atau salah kata,  terimakasih.

3 thoughts on “Labuan Cermin dan Wisata Sejarah di Kabupaten Berau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *