Travel

Kereta Api, Dari Masa Lalu Sampai Saat Ini

Bepergian untuk wisata ataupun bertemu dengan sanak keluarga. Ternyata tujuannya tidak hanya sekedar menikmati destinasi wisata ataupun bertemu dengan orang yang dicinta. Tapi sadar atau tidak, selain sampai di tempat tujuan. Kita juga mengidamkan perjalanan menggunakan berbagai moda transportasi sebagai sebuah sensasi yang kita nanti-nanti.

That’s why sering kita dengar sebuah pertanyaan terlontar kepada orang yang hendak bepergian ”Pergi ke Jawa Naik apa?”  “Pesawat atau kapal laut?”

Bahkan mungkin sebagian dari kita lebih menikmati perjalanan ketimbang sampainya kita di tempat tujuan. Mungkin ini yang merepresentasikan filosofi proses kadang lebih penting ketimbang hasil akhir.

Salah satu contoh nyata yang pernah saya lakukan adalah saat saya pergi jalan-jalan ke Yogyakarta. Siapa coba yang nggak kenal kota keraton ini? Saya yakin semua orang apalagi yang sedang membaca tulisan ini pasti kenal, bukan! Tapi perkenalan itu mungkin tidak sampai pada level intim. Hanya pernah melihat via layar kaca, atau bahkan hanya mendengar seklebat cerita dari lisan teman kita. Ok deh, kalau memang belum banyak tau tentang kota pelajar ini. Mari saya suguhkan sekelumit cerita supaya menambah gairah untuk pergi ke sana.  

Pagi-pagi buta saya menyiapkan semuanya. Baju sudah siap, perlengkapan mandi sudah terbungkus, chargeran, power bank, dan printilan lain pun ready. Ok here we go!

Berangkat lah saya dari asrama Cempaka Putih menuju stasiun Pasar Senen bersama dengan sisko salah satu sohib satu kamar. Seminggu sebelum keberangkatan, saya sudah membeli tiket kereta api ekonomi. Nama keretanya “Gajah Wong” yang melayani rute Pasar Senen-Yogyakarta. Mayoritas kereta ekonomi biasanya diberangkatkan via stasiun Pasar Senen menuju kota-kota besar seperti Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Solo dan kota lain. Sedangkan kereta eksekutif mayoritas diberangkatkan via stasiun Gambir.

Tips buat anda yang mau berangkat dari Jakarta ke Jogja. Saya sarankan untuk beli online jauh hari sebelum berangkat. Sebab saat mendekati weekend kereta Jakarta-Jogja biasa udah full booked, maklum di akhir pekan masyarakat Jakarta lebih memilih meninggalkan penat dengan bepergian ke Jogja atau ke puncak. Saya biasa memesan tiket di pegi-pegi. tidak hanya tiket kereta, saya juga booking homestay via aplikasi pegi-pegi ini. Lebih praktis, murah dan nggak ribet cari tiket atau penginapan saat tiba di Yogyakarta

Suasanan Pasar senen di subuh hari

Btw unik ya nama keretanya “Gajah Wong”. Bukan berarti hewan gajah sesuai dengan pengertian etimologisnya. Nama kereta Gajah Wong diambil dari nama sungai yang mengalir di Yogyakarta yakni “Kali Gajah Wong”.

Meskipun kelas ekonomi, kondisi dalam kereta sangat kontras berbeda dengan 10 tahun lalu.  Tempat duduk teratur, kondisi sangat bersih dan ber AC. Dulu saya masih merasakan bagaimana pesingnya toilet plus kotoran yang nggak disiram. Hiiii…. pokoknya orang yang nggak mabuk pun langsung puyeng kepalanya gara-gara melihat suasana kereta. Tempat duduk pun dusel-duselan sama orang plus pedagang yang keluar masuk kereta. Setiap detik ada aja teriakan Yo dingin…dingin…dingin, akua, mijon akua, akua., et dah kalau inget naik kereta jaman dulu mah mungkin ogah kali naik kereta lagi.

Tapi tenang semua itu masa lalu, sekarang udah berubah sedemikian rupa sehingga kereta menjadi moda transportasi yang nyaman, aman dan patut dibanggakan.  Bagi penumpang setia kereta tentu sangat merasakan bagaimana jauh progressnya pelayanan transportasi yang di gawangi oleh PT KAI ini.

Suasana Dalam Kereta Ekonomi "Gajah Wong"

Akhirnya kereta pun berangkat,. Jug…ijag…ijug…ijag…ijug…. Kereta berangkat (loh kok nyanyi sih). Perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta melewati beberapa Kota dan stasiun besar. Seperti stasiun Cirebon Prujakan, Purwokerto dan Kutoarjo. Di sepanjang perjalanan saya disuguhkan pemandangan yang sejuk dipandang mata. Hamparan hijau persawahan, pak dan bu tani terdengar sayup-sayup berteriak husssss,,,,,,weeeee,,,,,hussss mengusir burung yang sedang memakan buah padi yang baru tumbuh.

Saat kereta melewati jembatan terlihat sungai berbatu di bawahnya beserta bening airnya. Bahkan sesekali suasana ruangan kereta gelap gulita karena si ular besi yang saya tumpangi sedang menerobos terowongan.

Stasiun Cirebon Prujakan

Kereta Gajah Wong terdiri dari 11 gerbong. Kebetulan saya di tempatkan di gerbong ke 6 posisinya di tengah-tengah antara lokomotif dan ujung kereta. Tidak ingin menyianyiakan kesempatan saya telusuri beberapa gerbong ke depan sampai pada lokomotif. Eh ternyata ada kantin di gerbong ke dua.

“Pak ada kopi kah?” kata saya kepada seorang laki-laki paruh baya menggunakan seragam lengkap crew kereta.

“Ada mas, mau kopi item, kopi susu atau kopi yang baru tersedia nih kopi gayo!” katanya sambil mengangkat sebuah toples berisi bubuk kopi gayo.

“boleh deh mas Kopi gayonya 1 ya!” sejatinya saya bukan maniak kopi. Cuma kalau lagi pengen ya sesekali coba lah. Tidak sampai 5 menit kopi telah terseduh di sebuah cangkir instan dan langsung saya bawa ke tempat duduk gerbong ke 6.

Saat itu penumpang dalam kereta tidak penuh, banyak kursi kosong. Kaki saya bisa diselonjorkan di kursi yang posisinya berhadapan. Laptop dalam tas langsung saya keluarkan sembari update tulisan di blog, kalaupun baterai low tinggal colok charger di bawah meja kecil yang sudah tersedia di setiap kursi penumpang.

Setelah sekitar 7 jam perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta akhirnya saya tiba di stasiun tugu. Mata saya berbinar saat melihat tugu Jogja. Salah satu trademark khas kota ini yang sering berseliweran di media sosial. Kendati demikian kereta Gajah Wong tidak berhenti di stasiun tugu. Pak masinis memberhentikan kereta di stasiun lanjutan yang juga sebagai stasiun terbesar di Yogyakarta yakni stasiun Lempuyangan.  

Monumen Tugu Yogyakarta

Pantai parangtritis sebagai pantai terluas di provinsi Yogyakarta. Sejauh mata memandang bibir pantai dipenuhi hamparan pasir hitam. Orang setempat sih biasa menyebut gumuk pasir. Kalau mau menelusuri pantai mending menyewa kendaraan seperti ATV atau delman.

Orang setempat juga tidak memperbolehkan memakai baju warna hijau. Yah mungkin ini sebuah pantangan yang diberlakukan di wilayah pantai selatan. Sebagai tamu tentu saya menghormati dan mematuhi. Meskipun mendunia dan lengkap dengan berbagai macam wahana wisata. Yogyakarta masih kental menjunjung budaya leluhur semacam ini. atas dasar berbagai sebab inilah mungkin nama yang tersemat adalah Daerah Istimewa Yogyakarta. Istimewa wisatanya, istimewa kulinernya, istimewa bagi peraih gelar sarjana bahkan istimewa itu masuk ke lini sistem pemerintahan berupa kerajaan. Keberadaan keraton Yogyakarta yang sampai saat ini masih turun temurun. Sri Sultan Hamengkubuwono Ke 10 sebagai Raja Keraton Yogyakarta sekaligus gubernur Yogyakarta sampai saat artikel ini diterbitkan.  

Mon ma’ap tidak semua tempat yang saya kunjungi bisa saya ceritakan di artikel ini. tips dari saya kalau mau berkunjung ke Yogyakarta siapkan Itenarary perjalanan. Biar terstruktur, semua wisata terkunjungi dan intinya foto-foto digaleri bisa terpenuhi. Kalau nggak punya kendaraan buat jalan-jalan bisa sewa motor 50.000 sehari. Puas-puas dah tuh keliling kota Yogyakarta sambil belanja-belanja.

2 thoughts on “Kereta Api, Dari Masa Lalu Sampai Saat Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *