Opini

Kecewa Datangnya Dari Mana?

Kamu pernah kecewa? Sakit hati? Atau tak dianggap? 

Jika pernah.

ya udah nggak pa pa, saya cuma nanya kok. Hihihi

Oke jangan senyum-senyum sendiri ya setelah baca ini. ajak teman kalau mau ketawa. Anyway, anggap aja itu intermezzo dan sekarang mari kita sedikit periksa hati kita, bagaimana kekecewaan itu datang, Bagaimana sakit hati itu menghampiri?

Pada dasarnya kekecewaan yang pernah teman-teman alami didasarkan atas kesalahan kita sendiri. Kecewa itu datang lantaran kita menumpukan pengharapan kepada manusia. Kemudian harapan yang sudah di angan-angan ternyata tidak sesuai ekspektasi. Alhasil kekecewaan itu pun datang menghampiri. Kekecewaan itu datang akibat kita menaruh harapan kepada sesuatu yang tidak pantas untuk diharapkan. Ya,. kita salah karena berharap berlebihan kepada manusia

Saat kamu bersandar di sebuah kaca, kemudian kaca itu pecah karena tidak dapat lagi menahan beban tubuhmu. Siapa yang patut dipersalahkan? kaca kah? Ah tidak mungkin, kaca itu terlalu lemah untuk menjadi sandaran tubuh kita. Titik kesalahan itu sudah barang tentu ada pada dirimu, ya benar, dirimu yang bersandar pada sebuah kaca. Partisi kaca tidak diciptakan sebagai tempat sandaran. Bahkan kaca itu bisa pecah tanpa ada orang yang menyandari. Ini lah analogi yang bisa saya sajikan untuk menggambarkan bagaimana proses kekecewaan itu datang.

Pun demikian pula saat kita menaruh harapan kepada manusia. Sesuatu yang tidak layak untuk dijadikan media bersandar dan menaruh pengharapan. Manusia pun tidak diciptakan sebagai tempat menaruh harapan. Bahkan manusia tidak berkuasa atas dirinya sendiri. Dirinya hanya menjalankan skenario langit, berikhtiar dengan apa yang ditakdirkan dan berdoa untuk mencapai tujuan. Inilah yang barangkali bisa dipetik sebagai kesalahan fundamental yang akan mendatangkan badai kekecewaan.

Terus solusinya gimana dong? Ya berarti kita harus bersandar di tempat yang sudah sepatutnya sebagai tempat sandaran. Mengharapkan kepada sesuatu yang sesungguhnya patut untuk diharapkan. Dia lah yang maka kuat, maha besar dan tidak ada tandingan, Allah hu azza wa jalla.

Jangan pernah melalaikan Allah. Mengharapkan kepada selain Allah bisa jadi akan mendatangkan syirik kecil di dalam hati. Syirik menjadi sebuah kezaliman yang besar. Bagaimana tidak? saat Allah memerintahkan hambanya untuk terus berharap kepadanya, menanti hambanya curhat kepadanya, menunggu untuk dijapri oleh hambanya, meminta ampunan dan mencurahkan keluh kesahnya. Eh lha kok hamba yang lemah itu malah japri orang lain. Sakit nggak sih? Yes,

Barangkali untuk menggambarkan rasa sakit itu saya akan sajikan sebuah ilustrasi sederhana. 

Saat kita punya istri satu-satunya yang paling kita sayangi. Tempat untuk curhat dan menumpahkan rasa cinta. Pada suatu momen kita diharuskan untuk pergi ke luar kota kemudian kita pulang dari luar kota tanpa memberi kabar bermaksud untuk memberi kejutan kepada istri. Sesampainya di rumah kita mendapati istri kita sedang memadu kasih dengan laki-laki lain. Gimana rasanya bro?  sakit kan, syirik lebih besar dari pada ilustrasi ini. Allah yang telah memberi kenikmatan, hidayah, inayah, jagat raya dan tiada lagi nikmat yang kita dustakan. Lantas hambanya memilih bersandar kepada selain Allah, berharap kepada selain Allah.  Na’udzubillahimindzalik

Seorang ustadz sebut saja ustadz MT, pernah menerangkan kepada saya. Tiada balasan paling setimpal untuk pelaku syirik melainkan neraka. Bahkan saking besarnya dosa syirik, apabila seorang hamba wafat dalam keadaan syirik maka syafaat rasulullah tidak akan berlaku lagi.

Saat hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain kepadanya. Maka Allah menghalangi dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepadanya. Karena mata, telinga dan hati kita akan dimintai pertanggungjawaban. So, be careful with your heart mas/mbak brohh

Saat kita berharap kepada Allah sebagai satu-satunya dzat yang sudah seharusnya diharapkan. Sesungguhnya Allah menyimpan hadiah besar di balik itu semua. Kita tidak akan merasa kecewa, merana dan gundah gulana. Kita sudah berada di tempat yang benar dengan sandaran yang kokoh dan tak akan roboh.

Mari melihat bagaimana seorang vokalis melegenda yang mengumandangkan adzannya pertama kalinya Bilal Bin Abi Rabah. Saat Bilal hanya berharap kepada Allah dan Rabbnya itulah sebagai orientasi satu-satunya dalam hidup. Lantas apa dampaknya baginya? Saat dia di jemur di pasir Makkah, saat di seret keliling pasar, saat dia di tindis batu. Hanya kalimat “ahadun ahad” yang bergulir lirih keluar dari lidahnya. Ahh  saya terlalu baper menceritakan bagaimana kuatnya beliau. 

Tulisan ini saya buat atas dasar subyektivitas dari saya sendiri, yang baik diambil yang buruk silakan disampaikan ke saya sebagai bahan perbaikan tentunya.

One thought on “Kecewa Datangnya Dari Mana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *