Reportase

Kaca Punya Cerita Kehidupan

“pyarrr….,”bunyi gelas pecah di dapur.  “Apa nak?” ibu langsung merespon.
”Pecah mak,.! kataku memberi jawaban ke ibu.
“gelas itu dipakai minum nak bukan dipecahin tiap hari,”! ibuku memberi jawaban lagi.
            Begitulah kiranya aku sering memecahkan gelas dan perabot dapur. Satu per satu gelas kupecahkan nyaris setiap hari. Setelah gelas pecah aku langsung buang ke tempat sampah karena aku pikir itu hanyalah sampah yang tak berguna. Sekelumit cerita itu aku alami ketika aku masih berumur 5 tahun. Namanya juga masih anak-anak biasanya suka ceroboh apalagi dengan benda yang terbuat dari kaca. Maklum perabot rumah tangga yang terbuat dari kaca di rumah cukup banyak. Mulai dari botol, piring, gelas dan beberapa perabot lain.
          15 tahun setelah cerita itu tepatnya saat sudah berumur 20 tahun. aku mengikuti gathering blogger yang diadakan pada tanggal 9 juni 2015 bertajuk glass is life. Dari asal katanya saja mungkin anda bisa tebak . kenapa ya kok dibilang glass is life ? pertanyaan itu muncul dan terngiang di kepala!! untuk menjawab pertanyaan yang muncul. Beberapa narasumber yang berkompeten sudah hadir pada acara gathering blogger yang diadakan di gedung wimo kemang Jakarta itu.
menurut keterangan pak weli salah atu narasumber yang hadir. Kaca ternyata memiliki siklus kehidupan. siklus pertama adalah proses pembuatan kaca. Melibatakan beberapa bahan mulai dari  silika sand, lime stone, cullet dan turnis. Pada proses pembuatan semua bahan di lebur di sebuah tungku khusus untuk peleburan gelas dengan suhu sekitar 1500o C.  Nggak kebayang tuch panasnya gimana ??
Siklus yang kedua adalah proses pemakaian kaca. Alat yang terbuat dari kaca banyak digunakan di rumah tangga, industri sampai dengan di laboratorium. Pertimbangan menggunakana kaca sebagai package karena lebih kokoh dan transparan. Sebuah package setidaknya memiliki tiga kriteria yakni memberi nilai keamanan untuk sesuatu yang dilindungi baik itu cairan atau benda lain. kedua tidak memberikan pencemaran lingkungan setelah pemakaian sehingga konsep pembangunan berkelanjutan bisa diterapkan. Terakhir package memberi kesan estetis sehingga memberi rasa penasaran atau ketertarikan tersendiri.
Contoh indutri yang menggunakan botol kaca untuk package produknya adalah brand suwe ora jamu. Kebetulam salah satu  pengelola yang bernama jonathan hadir di gathering blogger glass is life. Alasan beliau memakai kaca sebagai package adalah menarik anak muda dengan bentuk mungil botol. Botol jamu juga terlihat jernih  memperlihatkan dengan jelas jamu yang ada dalam botol.
Selain mempunyai nilai guna kaca juga bisa dimanfaatkan untuk kerajinan yang memberi nilai estetis tersendiri. Seperti lampu hias, vas bunga dan beberapa benda yang memiliki kesan estetis tinggi.
Beberapa perabot yang menggunakan kaca
Siklus yang ketiga setelah digunakan jika kaca pecah atau sudah tidak terpakai lagi. kaca bisa didaur ulang. Proses recycle kaca mencapai 100%. Keseluruhan elemen kaca bisa di daur ulang untuk menjadi alat-alat kaca baru tanpa membuang sedikitpun elemen bahannya. oleh karena itu glass is the most sustainable package on the earth.
gathering bloger glass is life turut juga hadir wanita berkebangsaan asing bernama karin. wanita paruh baya ini mempunyai kepedulian terhadap anak-anak jalanan putus sekolah dengan merekrut mereka untuk membuat kerajinan dari kaca untuk kemudian dijual. Bahan yang digunakan adalah kaca bekas yang sudah terbuang. Selain membangun awareness masyarakat terhadap kaca miss karin juga ingin ikut berpartisipasi menjaga keseimbangan lingkungan dengan memanfaatkan kaca bekas untuk dibuat barang yang memiliki nilai tambah untuk dijual.

Kerajinan yang memiliki nilai estetis tinggi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *