Reportase

Film Mars : Refleksi Perjuangan Ibu Untuk Pendidikan Anaknya

Dua bulan sudah saya tidak menginjakkan kaki di gedung bioskop untuk menonton sebuah sinema. Kesempatan dan kesibukan aktivitas sehari-hari menjadi motif utama saya tidak menonton film. Biasanya sudah terbiasa menonton dengan teman atau kerabat dekat jika dirasa film menarik. Genre film fiksi ilmiah dan motivasi menjadi kegemaran yang sering saya lihat. Baru kali ini bertepatan dengan hari kebangkitan nasional 2 mei 2016. Saya berkesempatan untuk melihat film Mars bersama dengan Kopi (koalisi online pesona Indonesia). Sebuah film disutradarai oleh syahrul gibran mengambil setting di gunung kidul dan oxford inggris. Film ini terilhami oleh novel Aishworo Ang dengan judul yang sama yaitu Mars (Mimpi Ananda Raih Semesta).

Seorang ibu bernama Tupon (diperankan oleh kinaryosih) mempunyai anak bernama sekar (sekar kecil diperankan oleh Chelsea Riansy) berjuang untuk memperjuangkan pendidikan anaknya. Tupon mempunyai suami bernama Surip (diperankan oleh Teuku Rifnu Wikana). Keluarga mereka tinggal di sebuah desa di Gunung Kidul Jawa Tengah. Kultur budaya dan kebiasaan anak setempat adalah membantu ibu dan ayahnya bekerja. Kebanyakan tidak ada pikiran untuk sekolah. Namun pemikiran orang kebanyakan berlainan dengan pemikiran Tupon sekeluarga. Mereka menganggap pendidikan adalah sebuah kebutuhan wajib yang harus diperjuangkan untuk anak. Meskipun Tupon adalah ibu yang buta huruf.

Perjuangan Tupon dimulai ketika mendaftarkan anaknya Sekar ke SD Gombang 2. Bukan perkara mudah untuk sekolah pada kala itu. karena biaya yang dikeluarkan untuk sekolah tidak sedikit. Tupon harus menjual kambing yang ia punya untuk biaya sekolah anaknya. Jarak dari rumah sekar ke sekolah sekitar 14 Km. Tupon harus mengayuh sepeda bolak-balik untuk mendaftarkan anaknya sekolah. Usaha Tupon sedikit terbantu oleh ustadz ngali (diperankan oleh Cholidi Asadil). Beliau mengajar ngaji di masyarakat gunung kidul dan mejadi penerjemah Tupon ketika tidak bisa membaca formulir atau surat dari sekolah.
Sekar karena berasal dari keluarga miskin. Seringkali dikucilkan oleh teman satu kelas. Hasilnya cah ayu itu sering bolos sekolah dan lebih memilih untuk bermain menggembala kambing.  Sampai pada suatu ketika Sekar terpaksa harus dikeluarkan dari sekolah karena membuat gempar para guru atas tindakannya terhadap teman satu kelas.
Derita makin bertambah ketika Surip ayah sekar harus meregang nyawa karena tertimpa reruntuhan batu ketika bekerja di penambangan. Kini Tupon harus bekerja keras sendirian untuk membiayai pendidikan anaknya di sekolah barunya. Setiap hari dia harus berjualan tempe keliling kampung untuk dana sekolah anaknya. “Biar saja kaki jadi kepala dan kepala jadi kaki jika itu bisa membuat sekar pintar. Semua akan aku lakukan.,” begitu ungkap Tupon untuk memperjuangkan pendidikan anaknya.
Sepuluh tahun berlalu Sekar (Sekar Dewasa Diperankan Oleh Acha Septriasa) tumbuh dewasa dan sudah lulus dari sekolah SMA. Seorang duda kaya menginginkan dia menjadi istrinya. Namun lamaran itu ditolak oleh sekar lantaran ia ingin melanjutkan pendidikan jenjang perkuliahan. Banyak yang meragukan kemampuan seorang sekar untuk melanjutkan kuliah. Apalagi biaya kuliah membutuhkan dana yang tidak sedikit. Namun keraguan itu dijawab oleh sekar dengan raihan beasiswa kuliah di salah satu universitas di Jogja. Sekar ingat pesan terakhir ayahnya. “Jadilah kebanggaan bapak karo simbokmu”. Kata terakhir itu menjadi sebuah motivasi tersendiri bagi Sekar untuk tetap semangat meraih cita-cita.
Di Jogja sekar bertemu dengan kasih kandalfi seorang astronomi terkenal. Sekar diminta untuk menggantikan astronom itu sebagai pembicara di suatu seminar. Usai seminar itu prestasi sekar pun semakin melejit. Bagai gayung bersambut Sekar berhasil memperoleh beasiswa di Oxford Inggris. Hari-hari kuliah di Inggris dia lalui jauh dari Tupon ibunya. Dia berhasil mendapat nilai tertinggi di oxford university. Malang nasib sekar. Ketika raihan terbesar dalam hidupnya sudah diperoleh dan pulang ke Gunung Kidul. Dia menjumpai ibunya sudah meninggal di gunung kidul. Ketegaran dan keikhlasan Sekar melepaskan ibu yang selama ini memperjuangkan pendidikannya sampai berhasil memperoleh gelar S2 di Inggris.
Para Kru dan  Pemeran Film Mars 
Film ini memberi pelajaran penting betapa berharganya pendidikan untuk anak. Banyak para remaja yang mempunyai keterbatasan biaya berputus asa dan tidak mau memperjuangkan sekolahnya. Tupon sebagai sosok perempuan dengan daya juang tinggi untuk pendidikan anaknya patut dijadikan tauladan untuk ibu masa kini. Gender sudah tidak menjadi penghalang bagi siapa saja yang mempunyai tekad kuat untuk sekolah. Bagi Tupon kuliah anak menjadi harga mati untuknya. Sebuah film yang memberikan suntikan semangat bagi saya dan tentu anda yang mempunyai cita-cita untuk melanjutkan kuliah setinggi mungkin. Marilah anak Indonesia gantungkan cita-cita dan raihlah itu sedini mungkin. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *