Enak, Sehat, Bikin Cerdas. Tapi Kenapa Kamu Nggak Mau?

Posted on Posted in Opini

Orang tua saya sudah memelihara ayam sejak saya berusia 5 tahun. Ya kira-kira 17 tahun silam sekitar tahun 2000-an. Pada masa itu, ayam tidak hanya menjadi sumber makanan dari telur dan daging yang dihasilkan. Tetapi juga sebagai pasive income bagi masyarakat pedesaan. Kalau nggak punya duit biasanya masyarakat menjual sebagian ayam di kandang ke tukang ayam keliling. Per ekor dihargai 15.000 sampai 30.000 di tahun itu. Lumayan lah bisa membuat dapur kembali ngebul.

Dari tiga indukan ayam yang dimiliki ibu. Setiap bulan silih berganti indukan itu bertelur. Satu indukan bisa bertelur 8 hingga 12 butir. Tidak semua telur-telur itu di tetaskan. Jika saya berangkat sekolah pagi, biasanya ibu mengambil satu untuk dijadikan telur mata sapi. Kadang bapak mengambil 2 sampai 3 butir kemudian dicampur dengan rempah-rempah untuk dijadikan jamu. Katanya sih baik untuk kesehatan. Tapi jujur saya nggak terlalu suka jamu ayam kampung. Aroma telur mentahnya masih terlalu asli. Saya lebih suka telur itu goreng ataupun di rebus.

Sisa telur di kandang dibiarkan sampai indukan mengeraminya selama 21 hari. Jika sudah beranak pinak pasti ibu sembelih sebagian untuk di olah di dapur. Terutama ketika lebaran datang. Nyam….nyam….nyam momen makan enak pun akhirnya datang.

Sisa telur ayam yang ditetaskan (dokpri)
Sampai Sekarang Masih tetap Melihara ayam (Dokpri)

Sampai saat ini kebiasaan memelihara ayam kemudian makan daging dan telur itu terus berjalan. Awalnya saya hanya menganggap kebiasaan itu adalah sebuah aktivitas biasa. lha wong di rumah peliharaannya cuma ayam jadi ya nggak heran kalau sering makan telur dan sesekali nyembelih ayam. Ternyata anggapan saya itu salah. Dibalik kandang ayam di belakang rumah. Orang tua saya berorientasi terhadap kesehatan dan kecerdasan saya dengan cara yang praktis dan murah. Kok bisa gitu? 

Melihara Ayam untuk di sembelih atau di jual jadi (dokpri)

Pada Hari Ayam dan Telur Nasional yang diperingati setiap tanggal 15 oktober. Saya baru tahu ternyata telur yang saya makan selama ini memiliki kandungan gizi yang cukup kompleks untuk mencukupi nutrisi tubuh baik untuk kesehatan maupun kecerdasan otak. Satu butir telur kaya akan vitamin dan mineral. Seperti Vitamin A untuk menjaga kesehatan kulit dan mata, vitamin D guna memperkuat gigi dan tulang serta B12 yang bisa mencegah serangan jantung. Telur juga kaya akan protein yang mencapai 12,5%. Protein ini berguna untuk memperbaiki otot, kulit, rambut, dan jaringan tubuh lainnya. Kemudian telur juga mengandung kolin yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan fungsi otak karena akan membentuk jaringan syaraf dan sistem kardiovaskular. Selanjutnya telur juga menyimpan folat yang bisa merawat sel baru dan zat besi yang bisa mencegah anemia.

 

Tak mau kalah dengan telurnya. Daging si ayam yang sering saya makan menjelang lebaran juga mengandung gizi tinggi. Per 100 gram daging ayam mengandung 18,2 gram protein, 14,7 gram lemak, 2 mg zat besi. Selain itu daging ayam juga mengandung Asam amino sebagai zat pembangun otot dan Fosfor yang bermanfaat untuk memelihara kesehatan gigi. Untuk kebutuhan vitamin tubuh daging ayam juga mengandung vitamin A dan B1 serta banyak gizi lain yang berguna untuk memelihara kesehatan dan kecerdasan otak.

Buat kamu yang sedang menjalani program diet atau yang takut gemuk karena makan. Coba deh makan ayam sebagai menu utama. Ayam akan memacu pertumbuhan gemoglobin dan memperlancar pencernaan. Selain itu juga mengandung selenium yang bisa memperlancar metabolisme dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Telur dan ayam sumber protein termurah (sumber : pinsar Indonesia)
(Dokpri)

Setelah tahu begitu banyaknya kandungan gizi ayam dan telur. Kini saya selalu sedia telur terutama ketika ngekost dan jauh dari orang tua. Telur menjadi persediaan wajib selain beras sebagai menu utama. Pertimbangan pertama tentu karena harganya yang murah. Bayangkan saja saya bisa mendapat telur di warung dengan harga Rp 1000 per biji. Cara masaknya juga praktis. Jika bangun kesiangan, saya tinggal goreng telur dadar cuma 15 menit. Bisa dimakan campur sambel dan nasi anget yang dilumuri kecap. Kandungan gizinya? Udahlah ya, saya nggak perlu ndakik-ndakik lagi ngejelasin.

Nah kalau lagi pengen makan ayam tinggal beli di tukang nasi uduk di depan kost. Tapi kalau lagi beruntung kadang-kadang ada tetangga hajatan. Ujung-ujungnya saya pasti akan kecipratan makanan lezat hasil olahan ayam. Momen seperti ini membuat saya girang sama halnya seperti serial film upin-ipin “yee ada ayam guring.”

Kendati menyehatkan, praktis dan menjadikan otak cerdas dan telah dibuktikan melalui penelitian dan riset mendalam. Ternyata konsumsi telur dan ayam di Indonesia tak sebanyak negara tetangga serumpun Malaysia. Pada tahun 2014 Malaysia mengkonsumsi daging 38 Kg per kapita per tahun dan telur lebih dari 500 butir per kapita per tahun. Sedangkan konsumsi daging ayam Indonesia hanya mencapai 9,97 Kg per kapita per tahun dan telur 100 butir per kapita per tahun.  Lantas apa yang membuat kita malas mengkonsumsi atau nggak suka telur dan daging ayam? 3 hal ini mungkin bisa menjadi permasalahan yang membuat konsumsi ayam telur Indonesia rendah.

Malaysia

Daging

Kg Per Kapita Per Tahun

Telur

Butir

Indonesia

Daging

Kg Per Kapita Per Tahun

Telur

Butir

1. Cara Memasak

Semua yang ada di dunia ini kadang terasa membosankan. Hanya alis aril tatum dan kecantikan raisa lah yang sempurna. Pun demikian juga dengan telur dan ayam. Kalau setiap hari cuma di goreng menjadi telur mata sapi mungkin cenderung monoton. Supaya meningkatkan konsumsi telur dan ayam perlu rasanya kita memasaknya dengan berbagai varian. Lagian banyak banget olahan makanan Indonesia dari ayam dan telur. Makanan tradisional sampai modern pun menggunakan telur dan ayam sebagai menu utama. Telur balado, rendang ayam, semur, masakan padang, opor, dan masih banyak lagi makanan daerah Indonesia yang menggunakan telur dan ayam. Nah inovasi masakan ini mungkin bisa menjadi alternatif cara untuk meningkatkan gairah kita memenuhi protein dari daging ayam dan telur.

Tumpeng Lauk Ayam (dokpri)
Ayam Sambel Ijo (dokpri)
Ayam Sambal Berosok (dokpri)

Untuk memasak telur dan ayam juga perlu diperhatikan minyak goreng yang dipakai. Kolesterol terjadi bukan karena telur yang mengandung kolesterol jahat. Melainkan minyak goreng bekas atau sudah berulang-ulang kita gunakan yang menghasilkan kolesterol jahat. Jangan lupa juga kombinasi telur dan ayam dengan sayur dan buah.  Supaya makin ueenakkk tenan.

2. Informasi Simpang Siur

“Ah ogah makan telur, entar kolesterol naik lagi. Tau sendiri kan kalau kolesterol naik potensi buat sakit jantung semakin besar!” Barangkali inilah yang sering saya dengar dari teman dan beberapa orang. Informasi ini bisa jadi salah satu penyebab sedikitnya jumlah konsumen ayam dan telur.

Benar memang dalam satu butir telur mengandung kolesterol di bagian kuning telurnya. Tetapi kita tidak perlu takut berlebihan. Setiap orang memiliki kadar kolesterol berbeda. Penelitian dari seorang dokter bernama Thomas Behrenbeck dari Mayo Clinic mengungkapkan meskipun kita memakan 4 butir telur selama seminggu. Tidak akan meningkatkan risiko penyakit jantung karena kolesterol. 

Tidak hanya itu, Riset terbaru menunjukkan memakan dua butir telur secara rutin setiap hari. Tidak akan berpengaruh terhadap tingkat kolesterol seseorang. Tetapi lemak jenuh dari minyak goreng yang berulang kali dipakai sebagai pemicu meningkatnya kolesterol.

Kemudian untuk ayam broiler yang katanya kurang sehat karena suntikan hormon, itu sangat tidak benar. Bahkan mungkin itu adalah berita hoax yang dikonsumsi dan dipercayai secara massal. Lah terus kok bisa ayam pedaging itu cepat besar? Penelitian yang panjang dan hasil persilangan menghasilkan ayam dengan mutu genetik yang bagus. Bukan karena suntik hormon yang harganya Rp 65.000 padahal sekarang harga ayam hanya 35.000/ ekor. Bisa rugi lah pasti peternaknya!

3. Cara Penyimpanan

Setelah membeli telur ataupun ayam kadang kita menyimpannya terlebih dahulu. Entah itu hanya berupa persediaan makanan atau memang lagi malas masak. Biasanya saya membeli dan dimasak paling lama 2 hari setelahnya. Saya terbiasa untuk membeli telur secukupnya. Takut terlalu lama nyimpen malah bisa mengurangi gizi ayam dan telur itu sendiri. Ketika membeli pilih yang bagus nggak retak dan kondisi cangkangnya masih terlihat segar. Daging ayam juga pilih yang teksturnya masih kenyal ketika dipegang dan warnanya segar alami. Kasus yang sering terjadi yakni adanya ayam tiren atau formalin adalah sebuah tindakan dari oknum yang sangat biadab. Hal ini tentu bisa menurunkan konsumsi telur dan ayam Indonesia.

Kita juga harus cermat jika telur dan ayam itu harus disimpan. Pastikan tempat penyimpanan telur dan ayam dalam kondisi bersih dan tidak terkena paparan sinar matahari secara langsung. Jangan pula menyimpan telur dengan barang yang memiliki bau menyengat seperti bau gas LPG bahkan bumbu masakan seperti terasi dan cabai. Yah takutnya telur maupun ayam terjangkit bakteri salmonella dan mikroba berbahaya lain. Jika ada kulkas maka penyimpanan akan lebih praktis dan meminimalisir kemungkinan kontaminasi zat berbahaya dari luar.  

Simpan telur jauh dari bau menyengat (Dokpri)
Lebih aman Simpan Ayam dan telur di dalam kulkas (dokpri)

Oh ya tapi jangan langsung berpatokan setelah mengkonsumsi daging ayam dan telur anda akan langsung sehat walafiat dan cerdas seperti Habibie ya. Tentu bukan hanya makanan seperti telur dan ayam saja yang berpengaruh terhadap kecerdasan dan kesehatan seseorang. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan dan kebiasaan seseorang yang memicu tumbuh kembang, kesehatan dan kecerdasan. Nutrisi sehebat apapun tidak akan berdampak besar jika gaya hidup, kebiasaan dan lingkungan tempat kita tinggal tercemar.  That’s Why kita harus menjalankan seluruh elemen itu dengan seimbang. Jadi kalau mau sehat dan cerdas. Makan ayam dan telur jangan lupa pake sayur biar panjang umur.

(dokpri)
Sumber Referensi

Website pinsar Indonesia 

9 thoughts on “Enak, Sehat, Bikin Cerdas. Tapi Kenapa Kamu Nggak Mau?

  1. Mas Anjar, blognya keren … suka sama tampilannya.

    Kalo saya sekarang menghindari makan telur karena badan sudah jenuh hehe, sudah gampang kena penyakit macam kolesterol gitu. Kalau anak-anak saya sering makan telur.

    1. Kalau bosan makan telur mungkin cara masaknya dibedain mbak, di semur, di kecap, di panggang DLL biar nggak bosan

  2. dan selalu terpesona sama grafisnya….. aku sih suka makan ayam Njar…. di rumah selalu stok telur ayam.. juga telur bebek sih…..

    jugaaa melihara sih… kalo lagi ada hajatan kecil tinggal sembeleh….. jadilah masakan ayam kampung yang lejat dan kaya kolagen… bisa awet muda.

  3. Daging ayam dan telur itu makanan yang paling sering dikonsumsi oleh keluargaku. SOalnya harganya lumayan terjangkau dan pengolahannya mudah. Kalau males masak paling banter goreng aja hehe.
    Soal suntuk ayam broiler saya jg sejak dulu gk percaya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *