LifestyleOpini

Dari Wartel Dulu, Sampai Smartphone Kini

Masih teringat di benak saya ketika kelas 3 SD. Saya langsung beranjak ke sebuah warung telekomunikasi, biasa disingkat wartel. Hubungan saya dengan saudara sepupu yang ada di luar pulau Jawa hanya bisa saya lakukan dengan layanan telepon wartel ini. Kebetulan bapak saya juga sedang merantau di Pulau Kalimantan. Jadi sekalian menelepon sepupu dan mengabari ayah.

Waktu itu masih awal tahun 2002. Komunikasi jarak jauh yang cepat bisa kita lakukan hanya dengan mengunjungi wartel. Bentuk wartel berbilik dengan kaca bening sebagai penyekatnya. Satu tempat duduk plastik disediakan oleh pengelola di setiap bilik wartel. Tarif untuk sekali menelepon tergantung jarak dan durasi. Biaya untuk menelepon kala itu masih lumayan mahal. Kisarannya sekitar 3000-4000 tentu dengan rate uang di tahun itu.

Daripada buat menelepon mending buat beli beras atau keperluan dapur lain” begitu kata ibu jika memang komunikasi dengan keluarga dan ayah yang jauh di pulau Kalimantan itu tidak terlalu mendesak.
Kenangan Wartel Masa Lalu

Jika ingin lebih murah membayar tarif telepon di wartel. Kita bisa datang untuk menelepon pagi-pagi buta selepas matahari terbit. Katanya sih jam segitu kita bisa menelepon lebih murah dibanding siang atau bahkan malam hari. Jadi bisa kangen-kangenan lebih lama dengan ayah atau handai taulan yang rumahnya jauh.


Tetapi jika menelepon di wartel di pagi hari masih dirasa mahal. Solusi terakhir kita bisa mengirim surat dengan waktu sekitar 5 sampai 7 hari untuk sampai.  

Masuk di tahun 2007 saya sudah menemui sebuah telepon genggam. Waahh keren banget tuh orang yang dulunya hanya bisa komunikasi jarak jauh di sudut bilik wartel. Kini bisa membawa alat komunikasi jarak jauh itu kemanapun. Padahal telepon genggam di tahun itu masih seukuran asah sabit atau golok. Beratnya pun masih di kisaran 0,5 Kg. Sering sekali saya gunakan handphone yang memiliki antena panjang layaknya walkie talkie itu untuk main game ular-ularan.

Inovasi produk alat komunikasi terutama handphone di Indonesia tergolong cepat. Pembaharuan setiap tahun bahkan bulan terjadi pada teknologi komunikasi. Mulai dari handphone dengan kamera, kemudian muncul sinyal 3G dan pada akhirnya semua itu bermuara pada kemunculan ponsel pintar atau smartphone.

Kini Dunia Seakan Dalam Genggaman

Saya sempat terkaget ketika sudah lunglai dibuai dengan handphone dengan layanan internet. Tiba-tiba pada tahun 2010 muncul sebuah generasi alat komunikasi baru bernama smartphone. Tetapi saya sendiri kurang antusias di awal kemunculannya. Saya berfikir transformasi telepon di wartel menjadi handphone dengan fungsi sebagai alat telepon dan sms ditambah dengan internet adalah sebuah fungsi pokok yang lebih dari cukup untuk keperluan komunikasi maupun mencari informasi. Oleh karena itu smartphone saya anggap sebagai angin lalu yang tidak perlu saya miliki.  Terlebih untuk mendapatkan smartphone masih sangat mahal, di kisaran harga 1,5-2 juta an.. Ahh sudah lah saya tidak memperdulikannya.

Ternyata sikap saya yang sedikit acuh dengan smartphone tidak berlangsung lama. Satu tahun berselang, perlahan ponsel saya yang masuk kategori canggih pada saat itu kalah pamor dengan smartphone. Apalagi ketika teman-teman sejawat memamerkan smartphone baru degan segala fiturnya. Membuat telepon genggam yang sudah menemani saya sekitar 2 tahun menjadi usang.

Secepat kilat smartphone menjadi sebuah trend teknologi masa kini yang masif dimiliki oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Takjubnya lagi ternyata penetrasi pengguna smartphone di Indonesia menurut riset GFK tahun 2014 sebesar 68% lebih besar dibanding dengan Thailand yang hanya 59% dan Vietnam 45%.

Tidak ingin kudet dengan perkembangan teknologi akhirnya saya memilih untuk mengantongi 2 telepon genggam. Smartphone untuk update inforamasi dan handphone yang sudah menemani sejak 5 tahun lalu.

Secara kasat mata, saya merasakan kemajuan teknologi yang sesungguhnya ketika smartphone ini dimiliki oleh mayoritas individu negeri ini. Meskipun teknologi sangat luas cakupannya. Tetapi jika dimaknai secara sekilas maka perkembangan teknologi lebih cenderung ke kemajuan internet ketika smartphone mulai membumi di Indonesia. Bahkan jaringan internet yang dulunya hanya 2G atau 3G. kini berubah ke sebuah jaringan tercepat 4G LTE.

Teknologi ponsel pintar ini menjalar ke semua sektor kehidupan di Indonesia.  Mulai dari sektor sosial, budaya, dan sektor ekonomi terkena dampak kemajuan teknologi smartphone. Bahkan antara komputer dan smartphone yang ada sekarang. Hampir tanpa perbedaan baik fungsi maupun software yang bisa di download dan di instal setiap saat.

Teknologi smartphone yang membuat aktivitas menjadi lebih mudah. Implikasinya bisa kita rasakan sama-sama.  Ketika terjadi sesuatu yang ada di sekeliling kita. Peristiwa itu bisa kita kabarkan kepada khalayak umum melalui siaran langsung instagram, facebook, twitter atau media sosial lain.

Selain update berita dan informasi. Sektor ekonomi turut terbantu dengan adanya smartphone. Terbukti dengan maraknya Online shop dan market place sebagai tempat berjualan di dunia maya. Usaha Kecil, menengah dan besar bisa memperluas wilayah pemasarannya dengan toko online ini. lebih murah dan jangkauan yang tidak terbatas.  

Seakan tidak mau ketinggalan. Hampir seluruh mata pencaharian sudah dilengkapi dengan teknologi online. Mulai dari tukang ojek, jasa antar barang sampai pijat refleksi pun kini sudah menggunakan smartphone untuk proses pemesanannya. Ini bukti bahwa kemajuan sebuah teknologi internet yang ada di smartphone kini sudah merubah semua sendi kehidupan.
Teknologi Seperti Bilah Pisau, Positif dan Negatif Tergantung Penggunanya
Tetapi pertanyaannya kini, apakah perkembangan teknologi itu selalu berdampak positif untuk masyarakat Indonesia??? Pada kenyataannya tidak selamanya teknologi yang maju mempunyai dampak positif. Kemajuan teknologi bagaikan sebuah mata pisau yang memiliki manfaat positif dan negatif tergantung kita sebagai pengguna teknologi.  Ketergantungan dengan smartphone menjadi sebuah masalah yang saya sendiri mengalaminya.

Ketika saya mengikuti acara makan-makan dan reonian yang seharusnya sebagai ajang untuk bercengkrama, sharing dan bertukar pengalaman. Saya malah disibukkan dengan smartphone masing-masing. Bahkan ada beberapa kasus di Indonesia yang anak balitanya harus kecelakaan karena orang tua dimabuk oleh smartphone.
Acara Reoni Malah Sibuk Main Smartphonenya Masing-Masing
Dulu ketika alat komunikasi jarak jauh hanya dilakukan di wartel. Tidak ada yang namanya judi online atau bahkan yang paling ekstrem prostitusi online. Hal ini terjadi karena pengguna smartphone kurang arif dan bijaksana dalam memanfaatkan teknologi yang ada sekarang. Selain itu dampak negatif penggunaan smartphone juga banyak kita temui seperti cyber bullying, penculikan atau penipuan.  

Jika dilihat deretan dampak negatif ini terjadi karena penggunanya. Manfaat positif akan di dapat jika kita cerdas menggunakannya. Sebaliknya jika kita tidak memanfaatkan secara baik maka bisa jadi teknologi yang ada sekarang akan merugikan kita. Karena sejatinya kita semua tidak bisa lepas dari teknologi. Terlebih kemajuan teknologi di suatu negara adalah salah satu indikator kemajuan bangsa itu sendiri. Oleh karena itu sebisa mungkin kita sebagai pengguna yang akan mengendalikan teknologi, bukan teknologi yang mengendalikan hidup kita.

12 thoughts on “Dari Wartel Dulu, Sampai Smartphone Kini

  1. hahaha jadi kangen ma yang namanya wartel. Saya jarang banget sih ketemu suasana yang asik sendiri-sendiri dengan gadgetnya ketika lagi ketemuan ma keluarga atau teman. Kalau kayak gitu mending gak usah ketemuan, ya πŸ˜€

  2. Untung sekarang saya pake smartphone. Jadi kalo mau telpon gak usah bayar mahal2 apalagi banyak aplikasi sosial media di smartphone.
    Mau telpon? Gampang tinggal miscall aja cuma bayar paket internet, hihihi….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *