Opini

Bonus Demografi, Bukan Bonus Cuma Cuma

Indonesia merupakan negara besar nan kaya dengan berbagai macam keanekaragaman hayati yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Iklim tropis dan wilayah strategis membuat tanah Indonesia subur di seluruh pelosok negeri. Kurma yang sejatinya merupakan tanaman gurun, bisa tumbuh dan berbuah di Indonesia. Saking kayanya alam Indonesia. Seorang ulama besar asal Syria syaikh ali Thantawi mengungkapkan “Jika ingin mencari surga di muka bumi ini, Indonesia lah tempatnya.” Sungguh ini semua adalah anugerah besar yang ada diberikan kepada ibu pertiwi.

Selain anugerah berupa kekayaan alam, Indonesia juga mempunyai jumlah penduduk yang besar. Penduduk inilah yang justru memiliki peranan vital dalam pengelolaan alam Indonesia yang bisa dikatakan alam konglomerat ini. Badan pusat statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2016 Indonesia memiliki penduduk 258 juta jiwa dan menempati peringkat ke empat penduduk terbesar di dunia. Dari data ini, secara kuantitas sebenarnya Indonesia punya peluang besar untuk memanfaatkan SDM menjadi sebuah senjata ampuh jika disinergikan dengan kekayaan alam Indonesia.

Tetapi faktanya Penduduk yang besar bukan serta merta berbanding lurus dengan kemajuan suatu negara. Karena penduduk yang besar ini hanya kita lihat dari perspektif kuantitas. Sedangkan kualitas penduduk yang baik, jauh lebih penting untuk mencapai sebuah kemajuan bangsa.

Grafik: Penduduk Indonesia menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin (2016 )
Usia Produktif Penduduk Indonesia menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin (2016 )



Grafik: Rasio Ketergantungan Penduduk Indonesia, 1971–2016
Rasio Ketergantungan Penduduk Indonesia, 1971–2016


Jika kita melihat Indonesia dalam angka. Rasio ketergantungan dari tahun 1971 sampai 2016 terus menurun. Pada tahun 2016 BPS menyebutkan rasio ketergantungan sebesar 48,4. Artinya bahwa setiap 100 orang usia produktif hanya menanggung 48-49 orang non produktif. fenomena inilah yang disebut dengan bonus demografi. Sebuah hadiah yang didapat Indonesia karena jumlah masyarakat usia produktif dari umur 15-64 lebih banyak dibanding usia non produktif yang meliputi balita, anak-anak dan manula. 


Tetapi apakah bonus demografi ini memang benar-benar menguntungkan untuk Indonesia? Jawabannya bisa iya, bahkan sangat mungkin malah menjadi sebuah boomerang.
Ketika bonus demografi ini mulai di gaungkan untuk menjadi sebuah stimulus ekonomi kemajuan negara. Saya teringat kembali dengan nenek saya dulu yang mempunyai 12 anak. Salah satu anaknya adalah bapak saya. Anak sebanyak itu sangat dimaklumi, karena di tahun 1950an belum ada program KB. Jangankan program KB, Indonesia masih disibukkan dengan agresi militer belanda dan gejolak pemberontakan yang bisa mengancam negeri ini. Terlebih masyarakat dulu masih mempunyai stigma “banyak anak banyak rezeki”. Membuat setiap pasangan suami istri di periode itu, setidaknya mempunyai anak 7 hingga 14 orang.

Rentang usia paman dan bibi yang berjumlah 12 orang tidak terlampau jauh. Ada yang 2 tahun, satu tahun bahkan bibi saya yang ke 7 dan 8 merupakan anak kembar. Selang 20 tahun, 8 diantara 12 paman dan bibi saya ini mulai remaja memasuki usia produktif. Jumlah yang sebenarnya sangat menguntungkan bagi keluarga karena 8 orang masuk umur produktif dan hanya menanggung 4 adik yang masih sekolah dan balita. Terlebih kakek saya juga masih bisa bekerja. Dengan keadaan seperti ini seharusnya keluarga besar kakek bisa merasakan kesejahteraan.

Tetapi kesejahteraan keluarga besar kakek tidak terjadi. Paman dan bibi malah kebingungan mencari pekerjaan. Keahlian yang dimiliki juga pas-pasan. Pendidikan hanya sampai SD bahkan 3 paman saya tidak menikmati bangku sekolah membuat semua serba terbatas. Pada akhirnya paman dan bibi harus kerja serabutan, menjadi buruh tani dan mencari kerja kesana sini demi mendapatkan makan.

Kisah tragis menimpa ketika paman saya yang ketiga harus meninggal karena sakit. Dua tahun kemudian paman saya yang kelima juga meninggal karena keluarga tidak bisa membawanya ke rumah sakit untuk berobat. Tanah dan sawah kakek pun tidak banyak sehingga anak-anaknya banyak yang modal nekat merantau ke luar pulau mencari peruntungan demi menyambung hidup.

Cerita dari keluarga besar kakek saya ini, memberikan gambaran bahwa jumlah usia produktif yang lebih banyak dalam lingkup keluarga belum menjadi sebuah jaminan untuk hidup sejahtera. Jika kita kaitkan konteks ini ke bonus demografi, bisa ditarik benang merah bahwa bonus demografi di sebuah negara bukan bonus cuma-cuma. Bonus demografi justru akan menjadi sebuah ancaman jika negara tidak mempersiapkan dengan matang.

Malapetaka bisa saja terjadi di era bonus demografi karena persaingan antar golongan usia produktif semakin kompetitif. Jumlah pencari kerja lebih besar dibanding lowongan kerja. Alhasil jika setiap orang tidak dibekali dengan kemampuan dan skill yang memumpuni maka banyak yang tergusur menjadi pengangguran. Bisa jadi usia produktif ini menjelma menjadi non produktif karena tidak mendapatkan pekerjaan. Implikasi akhirnya menyebabkan terjadinya bencana sosial akibat persaingan antar usia produktif. Alih-alih mendapatkan bonus demografi. Jika kenyataan ini terjadi maka bencana demografi lah yang paling mungkin terjadi. 
Genderang Masyarakat Ekonomi Asean juga menambah daftar tantangan yang harus dilalui oleh mayoritas kelompok usia produktif. Sejak Desember 2016 kemarin MEA sudah resmi Bergulir. Persaingan kini tidak hanya dalam lingkup nasional, melainkan sudah semakin ketat akibat kompetisi dengan pencari kerja asing.

Lantas bagaimana langkah yang bisa kita lakukan supaya tidak terjerembab menjadi pengangguran atau bahkan seseorang yang menjadi beban negara di era bonus demografi?
Semua bermuara pada kualitas manusia. Sederhananya masyarakat di era bonus demografi bisa dianalogikan sebagai sebuah tanaman. Untuk mendapatkan tanaman yang bagus dan berbuah lebat. Perencanaan sudah dimulai sejak dari awal pemilihan bibit. Selama masa pertumbuhan, tanaman perlu asupan zat hara tanah dan pupuk yang berguna untuk tumbuh kembangnya. Perawatan terhadap hama dan serangan penyakit juga perlu di lakukan.

Ketika memasuki usia produktif sudah barang tentu tanaman itu mampu berbuah lebat. Tidak hanya untuk cadangan makanan dirinya sendiri. Melainkan bisa dipetik manusia dan menghasilkan oksigen yang bermanfaat bagi orang banyak.  Pun demikian juga dengan manusia di era bonus demografi. Sedari awal sudah dipersiapkan strategi cerdas untuk memaksimalkan banyaknya usia produktif ini. Tiga hal penting yang harus dipersiapkan dari awal menurut saya adalah pendidikan bagi masyarakat, penumbuhan jiwa wirausaha dan memaksimalkan peran pemerintah. 

Pendidikan adalah modal penting bagi sebuah bangsa. Kualitas masyarakat yang memperoleh pendidikan akan berbanding lurus dengan kemajuan suatu bangsa. Jika pendidikan setiap warga negara baik maka bisa dipastikan akan berdampak baik pula pada sektor lain. Tetapi sebaliknya, jika pendidikan mempunyai kualitas buruk bisa dipastikan kemajuan sektor lain akan terhenti.

Pendidikan tidak hanya untuk memperoleh pekerjaan apalagi memperkaya diri.  Tujuan yang lebih utama adalah mengubah moral, akhlak dan budi pekerti setiap peserta didik. Seperti sebuah slogan yang telah di gaungkan oleh presiden jokowi yakni Revolusi mental.

Pendidikan berbasis keahlian seperti SMK adalah sebuah pendidikan unggulan yang menciptakan lulusan yang mempunyai kompetensi khusus. Setelah lulus SMK mereka sudah siap untuk terjun ke dunia kerja. Infrastruktur pendidikan juga perlu mendapat perhatian. Alat penunjang yang ada di sekolah seperti gedung, laboratorium dan alat praktik harus memadai di setiap instansi pendidikan. Tenaga pengajar juga perlu disertifikasi untuk menghasilkan generasi terdidik yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga baik moralnya.
Pendidikan menyeluruh, murah, tuntas dan berkelanjutan menjadi sebuah tanggung jawab yang kini harus diwujudkan.  Beruntung sekarang sudah ada kartu Indonesia pintar dan bantuan operasional sekolah tingkat SD sampai SMA. Bantuan ini bisa digunakan untuk mendapatkan akses pendidikan bagi keluarga yang kesulitan membayar uang sekolah. Menurut kata data sasaran kartu Indonesia pintar akan dimiliki oleh 19,7 juta siswa pada tahun 2017. Ditambah beasiswa yang disediakan beberapa kementerian di rumpun pemerintahan dan program CSR perusahaan. Jadi sekarang tidak ada alasan lagi untuk tidak sekolah. 

Sulitnya mencari pekerjaan bukan malah mengendurkan semangat untuk berjuang apalagi patah arang mencari penghidupan. Hilangkan pola pikir kerdil. Masih banyak jalan menuju roma, masih banyak segmen pekerjaan yang bisa mendatangkan rezeki. Wirausaha adalah jawaban brilian bagi masyarakat yang ingin mengeksplorasi kemampuannya. Berdikari sendiri tanpa repot mencari lowongan pekerjaan. Karena di era bonus demografi kita tidak hanya dituntut untuk bekerja melainkan juga berkarya salah satunya adalah dengan berwirausaha.

Masih hangat di ingatan, ketika perusahaan besar gulung tikar di era krisis ekonomi tahun 1998. Tetapi tidak demikian dengan Usaha mikro kecil dan menengah. UMKM ini justru menunjukkan konsistensinya dikala krisis melanda.  Hal ini menegaskan bahwa berwirausaha menjadi sebuah sektor yang cukup menjanjikan.

Grafik: Kontribusi Penyerapan Tenaga Kerja
Kontribusi Penyerapan Tenaga Kerja


UMKM juga mempunyai peranan besar dalam menyerap tenaga kerja. Berdasarkan data statistik yang saya peroleh dari kata data pada tahun 2016 UMKM mampu menyerap hampir 97% tenaga kerja Indonesia. Sementara usaha besar hanya mampu menyerap 3,3%. Besarnya tenaga kerja yang diserap menunjukkan bahwa UMKM memiliki peranan penting dalam struktur pembangunan ekonomi Di Indonesia.



Statistik Indonesia menunjukkan pertumbuhan jumlah UMKM di Indonesia terus mengalami peningkatan. Tahun 1997 tercatat sebesar 36,8 juta dan tahun 2013 sudah mencapai 57,9 juta unit pelaku usaha. Untuk menjaga trend kenaikan ini. Pemerintah perlu memberikan perhatian khusus kepada UMKM. Pendampingan dan penyuluhan saya rasa lebih pantas di berikan ketimbang sebuah bantuan materil.

Penyuluhan teknis diperlukan karena UMKM ini perlu asupan ilmu dan update informasi. Mulai mengarahkan UMKM pada sistem pemasaran online melalui market place. Memperbaiki kualitas produk dengan standar mutu sehingga bisa menembus pasar ekspor. Program One Village One Product juga bisa diterapkan sehingga ekonomi di desa-desa tumbuh dan komuditi unggulan bisa muncul ke permukaan.

Jangan biarkan negara ini dibius oleh produk industri luar negeri yang sebenarnya UMKM dalam negeri sangat mampu untuk memproduksinya. Jika jiwa entrepreuneur ini dimiliki oleh setiap individu, tentu menjadi sebuah modal penting yang sangat menguntungkan di era bonus demografi.
Peran pemerintah untuk memetik bonus demografi memiliki kedudukan yang sangat penting. Kompetensi dan pendidikan yang sudah dikantongi setiap warga negara haruslah disambut dengan sebuah paket kebijakan pro rakyat. Sebuah kebijakan yang menyejahterakan bukan menyengsarakan.
Birokrasi pengurusan perizinan usaha seperti SIUP, SITU ataupun TDI bisa diurus dengan mudah dan biaya yang tidak terlalu mahal. Pengawasan terhadap pungli juga perlu dilakukan sehingga UMKM tidak resah dalam menjalankan usahanya. 

Pemerintah juga harus menjadi tauladan yang baik untuk rakyatnya. Beri contoh kepada masyarakat tentang sebuah etos kerja, budaya anti korupsi dan anti nepotisme. Dengan demikian keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia seperti yang tertuang dalam UUD 1945 memang benar-benar dijalankan sebagaimana mestinya untuk meraih bonus demografi 

Lapangan kerja yang tersedia di beberapa bagian penting di perusahaan sebisa mungkin pekerja Indonesia yang mengambil peran. Hentikan tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia terutama yang ilegal.

Pembangunan Infrastruktur yang menyangkut hajat hidup orang banyak patut dikedepankan. Rumah sakit, puskesmas dan akses kesehatan lain harus memadai. Adanya fasilitas kesehatan ini membuat masyarakat gampang memperoleh fasilitas kesehatan. Selanjutnya jalan dan jembatan sebagai akses transportasi dan distribusi barang juga patut untuk menjadi prioritas kebijakan pembangunan. Pemerataan pembangunan menjangkau ke seluruh wilayah Indonesia tidak hanya berpusat di pulau jawa. 

Indonesia tidak boleh kalah dengan Jepang yang juga mendapatkan bonus demografi pada sekitaran tahun 1950. Meskipun tahun itu masih berjarak beberapa tahun dengan tragedi bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Negeri matahari terbit itu benar-benar memanfaatkan bonus demografi sehingga sekarang menjadi salah satu negara maju di dunia.

Tiga komponen yang sudah saya sebutkan yaitu pendidikan, jiwa wirausaha dan kebijakan pemerintah merupakan sebuah pondasi awal untuk meningkatkan produktivitas nasional. Setelah pemerintah dan masyarakat bersinergi mempersiapkan dengan matang. Ke depan kita hanya menunggu buah manis dari bonus demografi.

Ekonomi akan tumbuh seiring dengan meningkatnya kualitas pendidikan masyarakat. Kemandirian industri dan wirausaha menimbulkan geliat penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan per kapita penduduk. Sejalan dengan itu, Indonesia juga akan mengalami pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan berkurang dan tujuan akhirnya adalah Indonesia akan menjelma menjadi negara maju di segala lini kehidupan akibat dari bonus demografi. 

12 thoughts on “Bonus Demografi, Bukan Bonus Cuma Cuma

  1. Memang bener mbak Harie, Oleh karena itu di point ke dua saya cantumin wirausaha supaya pada kreatif sendiri di era bonus demografi, sehingga sarjana tidak harus mencari kerja, kalau bisa ya menciptakan lapangan kerja

  2. Setuju banget mas, kualitas penduduk lbh penting untuk kemajuan suatu bangsa. Sekaramg ini justru yang bibitnya berkualitas malah memilih hanya punya anak satu aja. Sementara (maaf) org yang gak berpendidikan justru memiliki banyak anak.

  3. setuju mas, bonus demografi di Indonesia sepertinya malah menjadi beban, maaf, dan andaikan digaungkan lagi program KB serta lbh tegas atas kelakuan sex bebas (akibatnya byk anak2 lahir yg justru malah terbengkalai), diharapkan generasi penerusnya jd aset yg baik. Hmm, semua aspek hrs ekstra keras memperbaiki semuanya.

  4. iya..benar sekali. banyaknya usia produktif blm menjamin kesejahteraan keluarga, tetep harus memperhatikan keseimbangan ekonomi hingga tdk terjadi banyak kesenjangan

  5. Nah bener mbak kualitas penduduk ini bisa dapat dari institusi pendidikan, Tidak sekedar mencipatakan manusia yg terdidik tetapi juga bermoral dan mempunyai daya saing di era demografi

  6. Alasan mendasar usia produktif tidak bisa memberi kesejahteraan ta karena skill, pendidikan dan kemauan untuk maju itu minim mbak. Ini lah yg perlu kita tumbuh untuk generasi produktif Indonesia

  7. Setuju bangat kalo 3 point di atas diimplementasikan dengan benar, maka bukan mimpi Indonesia akan maju semaju majunya. Semoga secepatnya Indonesia bergerak maju seperti negara maju lainnya. Aamiin…

    Btw, infografisnya kece bangat Anjar 🙂

  8. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Industri kecil dan mikro. Industri kecil dan mikro berbagai aspek merupakan suatu ilmu yang sangat penting untuk dipelajari untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan tentang industri kecil dan mikro dalam kehidupan sehari-hari. Saya memiliki beberapa tulisan sejenis mengenai pengembangan segala bidang yang dapat dilihat di Industri kecil dan mikro

  9. Mantap postnya! Keren ada animasi-animasinya!
    Bahasa postnya agak berat ini yah. Tapi menurut saya kalau ga ada yang korupsi semuanya bakal lantjar.
    Korupsi yang bikin buyar perkembangan ekonomi kita ini.

    Salam kenal mas Anjar. Nice blog!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *