Lifestyle

Batik nusantara mendampingi perjalanan Hidupku

Untuk tinggal dan menetap di satu daerah mungkin menjadi sebuah tujuan hidup kebanyakan orang. Dengan tinggal di satu tempat kita bisa berinteraksi dan membangun relasi dengan tetangga dan sahabat secara lebih baik. Namun itu semua tidak berlaku bagiku. aku ini termasuk kategori orang yang nomaden. Alasan utama bukan karena tabiat bosan yang biasa dirasakan ketika  menetap di suatu tempat, melainkan alasan ekonomi dan pekerjaan orang tua yang mengharuskanku untuk hidup berpindah-pindah. Praktis jika dihitung aku sudah berlabuh ke tiga daerah yang berbeda. Melalui perjalanan hidup yang nomeden ini. Masing-masing daerah tempat aku tinggal mempunyai ciri khas, adat, dan penduduk yang berbeda-beda. Terutama yang paling menyita perhatian adalah kain batik dengan segala motif yang menjadi identitas setiap daerah yang aku kunjungi.
Ibu melahirkan aku di Kabupaten Jombang Jawa Timur. Dari bayi sampai masuk sekolah SMP aku hidup dan besar di kota kelahiran presiden RI ke empat Bapak Abdurahaman wahid (gus dur). Aku mengenal batik pertama kali ketika aku mengenakan seragam batik SMP. Maklum saja kebanyakan sekolah negeri di Jombang sudah menggunakan batik khas Jombang. Bentuk batik kota santri itu lebih mengeksplorasi dari keadaan lingkungan sekitar seperti  tumbuh-tumbuhan dan bunga. Motif yang aku temui dari batik Jombang adalah bunga tebu dan bunga melati. Dari beberapa motif batik Jombang yang paling terkenal adalah motif candi arimbi. Motif candi arimbi terinspirasi dari candi ngrimbi yang dulunya sebagai pintu gerbang kerajaan majapahit bertempat di kecamatan Bareng tempat aku tinggal. Selain dipakai pelajar yang ada di Kabupaten Jombang. Pegawai pemerintahan juga meggunakan batik jombangan ketika hari jum’at sebagai bentuk pelestarian sekaligus rasa bangga terhadap corak batik dari Kabupaten Jombang.

Kain batik khas Jombang (doc.pribadi)
Motif Bunga Melati Khas Jombang (doc,Pribadi)


Lulus dari sekolah menengah pertama aku diboyong orang tua ke Kalimantan Timur tepatnya di Kabupaten Paser. Kulanjutkan perjalanan hidupku menuju ke sebuah pulau dimana suku dayak sebagai suku asli yang mendiaminya. Dari mulai pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Kalimantan. Matahari bersinar amat terik di kota Balikpapan seakan menyambut kedatanganku untuk kali yang pertama di tanah Borneo. Kontras sekali perbedaan cuaca dengan di Jombang. Dari Bandara sepinggan Balikpapan mata sudah disuguhkan dengan Ukiran Khas suku dayak yang terpajang gagah di sudut Bandara Sepinggan Balikpapan. Selain di bandara aku juga menemukan beberapa ornamen dayak di beberapa titik seperti dinding gedung, kendaraan ketika menempuh perjalanan dari Balikpapan menuju Kabupaten Paser. Setelah menetap beberapa bulan di Kabupaten Paser Kalimantan Timur. Perlahan aku mempelajari batik Kalimantan Timur. Bahkan di sekolah ada mata Pelajaran yang di ajarkan khusus untuk mempelajari batik Dayak Khas Kalimantan. Batik khas kalimantan timur berbentuk simetris dengan warna dominan hitam, kuning dan merah.

Batik khas dayak (doc.pribadi)
selain media kain., batik khas dayak juga bisa ditemukan di gedung-gedung(doc.pribadi)
Di kabupaten paser, Kalimantan Timur aku bertemu dengan ibu Ratna kemala. Beliau adalah penyuluh industri yang menangani sektor batik di Kabupaten Paser. Beliau mengungkapkan bahwa ada dua industri batik yang ada di Kabupaten Paser. Ada batik tunjung langit dan batik Paser Gandhis. Kedua industri batik itu memiliki motif yang hampir sama dengan ciri khasnya berbentuk simetris dengan berbagai warna. Batik yang diproduksi oleh dua industri itu kini sudah mengalami sedikit transformasi dengan sentuhan dan corak alam yang ditambahkan di motif batik.

batik khas kabupatn Paser Kalimantan Timur 
Proses pembuatan batik khas kabupaten Paser kalimantan Timur 

Puas menghabiskan waktu sekitar empat tahun dan lulus dari masa putih abu-abu di Kalimantan akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan perjalananku berpetualang menjelajahi kolong langit yang ada di Indonesia. Aku memilih hijrah ke ibukota Jakarta melanjutkan kuliah. Di Jakarta aku mendapatkan beasiswa dan tergabung dengan mahasiswa seluruh nusantara dari sabang sampai merauke. Semua mahasiwa dari sabang sampai merauke itu membawa batik dari masing-masing daerahnya. Dalam suatu acara diskusi kita diwajibkan untuk mengenakan batik yang menjadi ciri khas dari asal mereka tinggal. Ada yang menggunakan batik Gorontalo, Lampung, Nusa Tenggara, Bali dan berbagai daerah lain. Corak, warna dan makna yang berbeda-beda langsung terlihat ketika teman-temanku menggunakan batik dari setiap daerahnya.

Menikmati batik nusantara dari teman se-nusantara (Doc.Pribadi)
Aku sendiri terpilih sebagai MC di acara diskusi itu. Tidak dengan batik khas Kalimantan, atau batik khas Jombang. Aku dan partner-ku menggunakan batik khas Jakarta layaknya pasangan abang none Betawi. Corak batik Jakarta yang aku kenakan lebih berbentuk geometris segitiga dengan warna dominan orange dengan tambahan gambar ondel-ondel di masing-masing sisi batik.  Dari acara diskusi itu aku bisa menikmati ciri khas kain batik dari seluruh nusantara tanpa harus menjelajahi daerah di Indonesia satu per satu.

Batik khas betawi (doc.pribadi)
Menyatukan Keberagaman mahasiwa se-nusantara dengan seragam batik (Doc.Pribadi)

Setelah puas melihat batik yang yang bervariasi dari masing-masing daerah melalui batik yang dikenakan teman-temanku. Kami menyatukan keberagaman yang semula terlihat dengan menggunakan seragam batik dengan corak dan warna yang sama. Selain melihat batik dari seluruh nusantara melalui mahasiswa dari setiap daerah. Disela-sela kuliah aku juga mengunjungi museum tekstil yang terdapat di Tanah Abang, Jakarta. di museum itu aku nikmati batik dengan berbagai corak yang berasal dari berbagai daerah. Aku juga berkesempatan bisa melihat secara langsung proses pembuatan batik dari warga sekitar yang juga berprofesi sebagai penenun pakaian. Saat itu aku bertemu dengan ibu upik salah satu penenun dan pembatik dari betawi yag sedang mengerjakan kain dengan motif pucuk rebung. Sambil menenun kain beliau menjelaskan bahwa motif pucuk rebung memiliki makna sebagai pengusir bencana atau tolak bala.

Museum tekstil tanah abang 
kain tenun oleh warga sekitar museum tekstil
Proses pembatikan dengan canting di museum tekstil
Motif pucuk rebung khas Jakarta
Dari perjalanan menjelajahi tiga daerah berbeda membawa sebuah makna tersendiri bagiku. Aku berhasil melihat keanekaragaman batik dari setiap daerah dengan berbagai corak, warna dan makna. Inilah Indonesia yang menyimpan beribu motif batik yang tersebar di berbagai daerah. Sudah seharusnya lah kita sebagai generasi penerus bangsa untuk ikut andil dalam melestarikan warisan budaya batik. Terlebih lagi batik sudah mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai warisan budaya tak benda asli dari Indonesia.  Kalau wakil negara lain sering menggenakan batik sebagai pakaiannya!! kenapa kita nggak???? Dengan mempelajari dan mengenakan batik, Selain bertujuan untuk melestarikan ada keuntungan lain yang bisa kita rasakan secara langsung. Ya.., kita bisa tampil lebih formal,cakep dan keren abis ketika memakai batik. 

5 thoughts on “Batik nusantara mendampingi perjalanan Hidupku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *