Ketika Dunia Lain Tak Lagi Menyeramkan

Posted on Posted in Opini, Tips and Trik

 Apa yang ada dibenakmu jika mendengar kata “Dunia lain”? Pasti serem, mistis atau hal lain yang beraroma magis. Stigma ini wajar sekali, karena dunia lain memang sangat identik dengan alam ghaib tak kasat mata. Terlebih jika kata ini kita dengar di tahun 90an. Mungkin saya pun bakalan melipir duluan, sampai nggak berani keluar malam sendirian.

Secara etimologis bahasa, makna dunia lain adalah dunia yang berbeda dengan dunia nyata tempat manusia menjalankan segala aktivitas. Tetapi jika kita bahas konteks kata “dunia lain” di era milenial seperti sekarang. Apakah dunia lain itu tetap menyeramkan? Bagi saya mindset dunia lain yang dulu dianggap menyeramkan itu perlahan mulai luntur. Gimana mau menyeramkan lagi. Lha wong kuntilanaknya sibuk mainan facebook, pocongnya update terus di instagram dan gedruwonya udah seneng stalking media sosial. hehehe
Jadi semua hal yang dulu dianggap serem sekarang sudah tergantikan dengan dunia baru berlabel dunia maya media sosial. Oleh karena itu dunia lain dalam konteks dunia maya media sosial kini sudah tak lagi menyeramkan. Lantas bagaimana serba serbi media sosial dalam kehidupan masyarakat saat ini?

Sekarang coba ngaku, hari ini pasti kamu udah pada buka media sosial bukan? Bahkan ketika kamu baru bangun tidur, smartphone lah yang kamu cari pertama kali dan langsung update informasi melalui Instagram, twitter, facebook.  Di detik ini pun secara tidak sadar kamu sedang berselancar di media sosial dengan membaca tulisan saya di sebuah media sosial bernama blog.

Media sosial bak sebuah virus yang menjangkit secara masif dan terstruktur. Bagaimana tidak? Sejak awal kehadirannya yang hanya difungsikan sebagai pengunggah status di beranda. Media sosial kini sudah terus mengalami eskalasi fungsi. Seperti media untuk grup diskusi, live streaming, sampai merambah ke sebuah video boomerang dan rewind yang baru di kembangkan oleh Instagram. Sungguh sangat dinamis sekali perubahan fungsi itu. Semua orang bisa berekspresi dan menyalurkan semua kegiatannya via media sosial tanpa terpengaruh batas ruang dan waktu.

Bak tahu bulat yang digoreng dadakan dan diserbu banyak orang. Kegemerlapan media sosial sontak membuat pengguna media sosial terus meningkat.  Menurut data kementerian komunikasi dan informatika. Indonesia merupakan negara keempat terbesar sebagai pengakses facebook di tahun 2014. Sedangkan untuk kerabat dekatnya twitter, pada tahun mei 2016 Indonesia juga menempati peringkat keempat pengakses terbesar di dunia .
Data jumlah pengguna facebook tahun 2014
Data Pengguna Twitter Tahun 2016

Angka ini mengindikasikan media sosial kini menjadi wadah paling digandrungi masyarakat sebagai tempat untuk mengaktualisasikan diri. Wajar jika kini media sosial menjelma menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian masyarakat Indonesia.

Setali tiga uang, saya pun ikut merasakan keuntungan bermedia sosial. Melalui sebuah rekomendasi pertemanan di facebook. Saya melihat ada seorang wanita yang mempuyai 26 teman yang sama dengan saya. Awalnya saya tidak menghiraukan rekomendasi pertemanan itu. Tetapi hampir setiap hari rekomendasi itu terus muncul di timeline. Akhirnya saya pun iseng-iseng stalking berandanya. Melihat wajahnya memang terlihat tidak asing. Saya pun beranikan diri untuk melihat detail foto di album yang telah dia unggah.

Ternyata dia adalah teman saya SD yang sudah sekitar 11 tahun nggak ketemu. Jelas perbedaan antara dulu ketika SD dan sekarang sudah sama-sama bekerja. Betapa senang hati ini. Bisa menjalin komunikasi kembali dengan sahabat lama video call media sosial.

Inilah salah satu kekuatan media sosial dalam menyambung silaturahim. Yang jauh menjadi dekat, yang dulu berteman kini bisa bertemu lagi. Yah meskipun komunikasi itu kami lakukan hanya via dunia maya. Tetapi cukup membuat saya bernostalgia mengenang masa SD.

Sebegitu besar peran media sosial di era milenial saat ini. Sampai hampir semua informasi kini kita dapatkan di media sosial. Setiap perubahan fenomena yang terjadi dengan cepat bisa menyebar di media sosial. Masyarakat sudah mempunyai sebuah media sendiri untuk mencari maupun menyampaikan berita. Dengan berbagai fitur yang disediakan media sosial. Informasi apapun bisa kita dapatkan di media sosial. Televisi yang dulu sebagai acuan informasi kebanyakan orang. Sekarang pun sudah menurun pamornya tergusur oleh kekuatan media sosial.

Tetapi media sosial tidak selamanya berimplikasi baik terhadap kehidupan manusia. Belakangan ini kerap kali kita mendengar. Berbagai macam dampak negatif penggunaan media sosial. Karyawan dipecatlah, anak kecelakaan lah sampai aksi bunuh diri karena media sosial. Jika pengguna media sosial belum mengerti bahkan cenderung ngawur dalam menggunakan jagat maya ini. Justru media sosial bisa menjadi boomerang bagi penggunanya.

Terutama jika kita sampai pada level kecanduan media sosial. Baru sebentar bekerja, langsung buka smartphone. Selepas itu ditaruh, kemudian dipakai lagi, diletakkan sebentar, dilihat lagi. Begitulah seterusnya sampai pekerjaan kita tidak terselesaikan dan produktivitas kita menurun.
Bahkan barang yang kita cari setelah bangun tidur adalah smartphone

Dari perspektif ini kita patut untuk mawas diri. Berapa jam waktu yang kita habiskan untuk memegang gadget? Apakah kita sudah masuk ke titik kecanduan media sosial? Tentu ungkapan ini tentu tidak berlaku bagi mereka bekerja sebagai media social officer.
Oleh karena itu sebagai manusia yang dibekali akal untuk berfikir. Sudah seharusnyalah kita arif dan bijaksana dalam menggunakan media sosial. Kuantitas pengguna media sosial yang terus meningkat harus diimbangi dengan kualitas pemikiran bermedia sosial. Stigma bahwa media sosial adalah sebuah wadah yang dijadikan ajang untuk narsis dan pamer kemewahan harus segera dirubah. Untuk menghindari dampak buruk media sosial ini. Saya mempunyai 3 entri poin yang menjadi landasan untuk cerdas memanfaatkan media sosial.
Mari Bijak Bermedia Sosial

1. Tingkatkan Literasi media

Literasi media adalah hal pertama dan utama yang menjadi modal para netizen. Ibarat seorang yang ingin pergi berperang. Terlebih dahulu seorang prajurit harus punya senjata dan menguasai keahlian bela diri. Pun dengan media sosial, Kita harus bisa memahami segala informasi yang ada di media sosial. Hari gini arus informasi sudah tak dapat terbendung lagi. Siapapun bisa menyampaikan opininya di media sosial. That’s Why kemampuan menganalisis informasi di ranah media sosial itu penting sekali dilakukan.
Bedakan informasi itu hoax atau fakta
Cek dan ricek dulu, tidak menelan mentah-mentah berita yang kita terima di media sosial. Nasi dan sayur aja perlu dikunyah dulu, kemudian ditelan. Masak iya informasi langsung kita telan bulet-bulet. Artinya kita bisa melihat suatu fenomena di media sosial dari segala sudut pandang. Menelaah informasi dari berbagai sumber kemudian membandingkannya.

Hal ini untuk memastikan berita itu memang benar adanya bukan benar katanya. Apakah itu fakta atau hanya berita hoax. Apabila sudah mengetahui berita itu fakta. Apakah informasi itu perlu disebar atau tidak? Jika disebar apa dampaknya bagi kita?

Loh memang sampai sedetail itu kita bermedia sosial? Ya iya lah, Ingat UU ITE tidak hanya menjerat pembuat berita, tetapi penyebar juga bisa terkena sanksi pidana. Oleh karena itu jangan langsung percaya dengan informasi yang ada di media sosial. Apalagi langsung membagikannya tanpa verifikasi terlebih dahulu.

UU ITE menjerat pembuat dan penyebar informasi bohong dan menyesatkan
Jangan lupakan juga tata krama dan adat ketimuran kita sebagai orang Indonesia. Tidak menyebarkan kegalauan dan ujaran kebencian di media sosial. Apalagi sampai mengucapkan kata-kata kotor dan menghujat satu sama lain. Sampai saat ini saya sering menemukan jika dua orang atau lebih sedang mempunyai masalah. Maka akan diluapkan semuanya di media sosial. Tentu langkah ini tidak akan menyelesaikan masalah malah justru memperkeruh suasana. Mending diselesaikan di dunia nyata dan saling instropeksi diri.

2. Aksi Sosial di Media Sosial

Nah jika literasi media sudah kita kantongi. Langkah selanjutnya adalah menjadikan media sosial sebagai sarana untuk aksi sosial.  Kita bisa turut andil untuk membagikan hal-hal yang baik dan bermanfaat di media sosial.

Mungkin kita masih ingat dengan kasus anak kecil nan lucu angeline. Awalnya orang tuanya mengira angeline hilang. Oleh karena itu dia memajang foto di media sosial dengan caption anak hilang. Beberapa orang yang peduli dan merasa iba dengan anak kecil itu pun membagikan foto yang telah di unggah ibu angeline. Informasi anak hilang akhirnya cepat menyebar. Aksi sosial yang ada di media sosial ini akhirnya cepat direspon oleh polisi. Setelah diselidiki ternyata angeline bukan hilang melainkan menjadi korban pembunuhan.

Belajar dari kasus ini, ternyata media sosial bisa kita gunakan untuk aksi sosial. Misal membantu pengumpulan dana bencana, menjadi volunteer di organisasi sosial kemasyarakatan dan hal bermanfaat lain.
Gunakan juga media sosial sebagai wadah untuk menjalankan aksi sosial
Jangan lupakan juga hakikat kita sebagai makhluk sosial. Interaksi di dunia nyata juga tak boleh diabaikan. Saking terbiasanya dengan media sosial mungkin menjadi pemandangan biasa. Jika sebuah acara reoni, rapat, seminar atau bahkan belajar malah semuanya sibuk menundukkan kepala ke bawah sambil memainkan smartphonenya.

Coba sekarang kita lihat berapa banyak teman di akun facebook. 100, 1000, atau bahkan sudah melebihi batas maksimal pertemanan. Nah pertanyaannya sekarang apakah semua teman itu pernah berinteraksi di dunia nyata denganmu. Jika belum, yuk jalin silaturahim dan hubungan yang baik dengan semua teman baik di dunia maya maupun dunia nyata.

3. Media sosial untuk Berbisnis

Mungkin anda sudah tidak asing lagi dengan “social media marketing”. Yups pemasaran virtual melalui media sosial kini sangat trend dan kerap menjadi andalan. Lihat saja semua perusahaan baik itu BUMN, perusahaan swasta atau instansi sosial kini semuanya mempunyai media sosial.  Selain pertimbangan efisiensi biaya, media sosial juga memiliki jangkauan yang tidak terbatas.

Semua orang yang mempunyai internet bisa melihat media sosial suatu instansi. Tujuan akhirnya tentu untuk menjalin harmonisasi dan membentuk opini positif dengan masyarakat.

Sebenarnya kita juga bisa ambil bagian untuk berbisnis di  media sosial loh? Misal dengan jualan online via Instagram, twitter dan facebook. Bahkan jika serius menekuni media sosial. belajar digital marketing dan cara menganalisis media sosial. Kita bisa menjadikan media sosial sebagai sebuah profesi. Hampir semua perusahaan kini membutuhkan posisi seorang media sosial officer. Jadi tidak hanya memajang profil bio facebook. Bekerja di PT mencari cinta sejati.  Tetapi kamu bisa bekerja beneran sebagai ahli media sosial di suatu instansi
Meraup keuntungan dari sosial media
 Itulah serba serbi media sosial yang saya anggap sebagai dunia lain yang saat ini tak lagi menyeramkan. Kita harus cermat memakai media sosial sehingga mendapatkan manfaat untuk keberlangsungan hidup. Jangan sampai media sosial yang sangat potensial itu malah menjadi biang keladi ketidakproduktifan. seperti kata albert einstein “I Fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiot”. (Saya takut pada hari ketika teknologi sudah sangat di andalkan . Pada saat itulah dunia akan memiliki generasi idiot) 


14 thoughts on “Ketika Dunia Lain Tak Lagi Menyeramkan

  1. Hahaha aku selalu terkesima dengan grafisnya Jar…jadi keren. Selfie tapi kayak gak selfie.

    Btw bener banget emang sih… Media sosial jadi momok. Emang bener kalo bangun tidur yg dicari hape. Padahal kebelet pipis… Udah kecanduan nih…. Tp untunglah medsosku menghasilkan receh (masih receh), jadi masih ada untungnya punya medsos…

    Btw medsos kadang juga jd penyelamat kalo lagi kumpul sama orang yg gak asyik. Sibuk aja maen hape. Wkwkwk

  2. sepertinya media sosial lebih seram dari pada dunia lain , .

    nah, saya lebih suka dengan yang terakhir mas. setidaknya saya juga seorang bembisnis kecil-kecilan lah lumayan share sana-sini dapet income buat jajan . .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *